Kamis, 14 Agustus 2008

________________________________________________________
________________________________________________________

CERPEN SEMBILAN BELAS MAHMUD JAUHARI ALI






Sehari di Palangkaraya

Mahmud Jauhari Ali


Bus yang kutumpangi akhirnya memasuki terminal Bundaran Burung Tingang Palangkaraya. Kulihat para tukang ojek berlarian menuju arah kami. Mereka seakan sedang beramai-ramai berusaha menangkap mangsa yang.besar

=====“Mau ke mana Mas?” tanya salah seorang dari para tukang ojek itu dengan sopan kepadaku.

=====“Saya mau ke Bukit Keminting, Bang.”, jawabku ramah kepadanya.

=====“Ayo saya antar Mas ke sana!” ajak tukang ojek lainnya yang berdiri persis di sampingku. Seperti itu pula ajakan beberapa tukang ojek yang lainnya kepadaku.

=====“Teman saya sudah janji akan menjemput saya di sini.”, kataku singkat kepada mereka.

Syukurlah temanku segera datang menjemputku. Jika tidak, para tukang ojek itu mungkin terus memburuku dengan berbagai rayuan agar aku memakai jasa mereka.

=====“Narai habar Le?” temanku langsung menanyakan kabarku dengan bahasa Dayak Ngajunya yang khas.

=====“Aku bahalap ih. Ikau narai habar kea?” jawabku untuk memberitahunya bahwa aku sedang baik-baik saja. Aku pun balik bertanya kepadanya tentang kabarnya dengan bahasa yang serupa, tetapi memakai dialek Dayak Ma’anyanku yang khas pula.

=====Saat itu kulihat wajahnya yang dibalut kulit kuning langsat sepertiku memancarkan kebahagian atas kedatanganku. Telah dua tahun kutinggalkan kota cantik Palangkaraya. Selama itu pulalah kami tak bertemu muka secara langsung. Kami biasanya berkomunikasi melalui ponsel dan juga facebook di internet. Sungguh pertemuan kali ini membuat kami sangat bahagia.

=====Kulihat bangunan-bangunan baru bermunculan di kota ini. Mulai dari bangunan tempat ibadah, pusat perbelanjaan, hingga warung-warung kecil di pinggir jalan. Kulihat kembali lapangan Mantingai yang tetap indah di mataku. Dulu kami sering bermain basket di lapangan yang luas itu. Di lapangan itu pula aku ajak dia menyaksikan Mutsabaqah Tilawatil Quran yang pernah diselenggarakan di Palangkaraya beberapa tahun silam. Dia beragama Kristen Protestan dan aku seorang mualaf yang dilahirkan dalam keluarga Katolik yang taat. Walaupun kami berbeda keyakinan dan prinsip hidup, kami tetaplah akrab satu sama lain. Persahabatan kami ibarat makna filosofis dari rumah khas suku Dayak yang kami junjung, yakni rumah betang. Rumah khas kami itu memiliki makna berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.

***

=====“Kuman helu!”, ajak isterinya saat kami sedang asyik berbincang di serambi depan rumahnya.

Ajakan makan istrinya itu pun kami balas dengan tindakan nyata menuju ruang makan dan menyantap habis makanan di piring kami masing-masing. Daging ayam bakarnya sungguh lezat dengan nasi hangat yang pas di lidah kami. Makanan ini mengingatkanku kembali pada kenangan-kenanganku pada masa lalu di kota ini.

=====“Ka kueh hindai?” temanku tiba-tiba membangunkan diriku dari kenangan masa lalu dengan pertanyaannya kepadaku.

=====Kujawablah dengan satu jawaban singkat, yakni aku hendak ke tanah kubur calon istriku dulu. Aku memang berniat untuk berziarah di sana sejak dari rumahku kemarin di Tamiang Layang, Barito Timur. Ingin kukenang suaranya yang lembut saat berbicara denganku dan tanteku saat kami bertemu. Meskipun orang tua kami telah merestui hubungan kami, jarang sekali kami bertemu muka dan tak pernah pula kami berdua-duaan. Seandainya dia masih hidup, mungkin kini ia menemaniku sebagai istriku. Tapi sekali lagi tidak, kini ia telah tiada dan aku ingin menghirup aroma tanah kuburnya di kota ini.

=====“Jasadmu yang dulu berdiri tegak di hadapanku kini terbujur kaku di bawah sana. Dik, aku masih teringat dengan ucapanmu dulu tentang senyuman. Aku memang orang yang keras hati dan tak mudah tersenyum. Hari-hariku kuisi dengan keseriusan hingga wajahku tak menunjukkan keramahan di mata orang lain. Tapi kini, aku tak seperti dulu lagi. Hidupku telah kuisi dengan rasa persaudaraan dan keramahan.”, ucapku lirih di hadapan makamnya setelah aku berdoa di sana.

=====Aku tak pernah berbicara dengan bahasa daerahku atau bahasa orang Ngaju kepadanya. Ia adalah pendatang dari pulau Sumatera. Kami selalu berbahasa Indonesia dalam berkomunikasi yang singkat dan teramat singkat.

=====Hari pun berubah mendung dan tak lama kemudian menjadi bulir-bulir yang membasahi tubuhku dan tubuh temanku. Kutinggalkan tanah kubur yang tadi kupandangi dengan hati yang di dalamnya bercampur aduk berbagai perasaan.

***

=====Malamnya aku bercengkrama dengan teman-temanku yang telah lama tak kutemui. Kami terlibat percakapan yang seru dan mengasyikkan di bawah tenda warung dekat jembatan Kahayan yang megah. Sungguh malam ini merupakan malam bahagia bagiku. Ingin rasanya setiap malam kulalui dengan mereka di sini. Namun, besok aku harus segera kembali ke tanah kelahiranku. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana. Aku berharap ‘kan kutemui kembali malam seperti ini di malam-malam berikutnya.

=====Keesokan harinya aku dibonceng temanku dengan sepeda motornya. Walaupun sudah banyak perubahan di sana-sini, tetapi udara pagi pun masih terasa sama saat aku berangkat ke kantor dulu di kota ini. Suasananya juga masih sama. Oh, rasanya aku kembali ke masa lalu. Sedih rasanya hari ini harus kutinggalkan kota yang pernah lama kutinggali ini. Sehari semalam tak cukup sebenarnya mengobati kerinduanku pada semua yang pernah kukenal di sini.

Akhirnya, kupandangi wajah temanku dari balik kaca bus yang bergerak maju meninggalkannya dan kota yang cantik ini.

=====“Yakinlah teman, walau kita tak lagi bersama seperti dulu, aku akan selalu berusaha mengingatmu dan mengingat sejuta kenanganku di tanah kelahiranmu ini.”, ucapku dalam hati terdalamku.

***


CERPEN DELAPAN BELAS MAHMUD JAUHARI ALI




Irama Terbang Tua

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Di antara hiruk-pikuknya kota, dan semakin pekatnya polusi di atmosfer tempat kelahiranku, aku masih seperti dulu. Ya, seperti dulu, setia dengan kesenian lama yang kini dipandang orang sudah usang dan berkarat. Batang usiaku kini telah mencapai kepala enam dan sedihnya, tanpa pewaris atas seni yang kubawakan dari waktu ke waktu. Temanku hanyalah sepasang kayu kering dan kulit hewan yang setia kepadaku. Sesekali kutengok masa lalu yang pernah membawaku ke atas pentas kebahagiaan. Sesekali pula aku diminta untuk mementaskan sebuah kisah yang berisi pula wejangan bagi pendengar dengan iringan suara terbang tuaku. Pernah kudengar sayup-sayup orang berkata, kesenian yang kubawakan telah berlumut, mirip dengan namanya.

Siang itu kupandangi sebuah surat yang dilayangkan oleh instansi ternama untukku. Telah lama sekali aku tak menerima sepucuk surat seperti ini. Memang bukan surat cinta, namun isinya membawaku ke alam cinta pada kesenian tua yang mulai redup di telan angkasa kota. Rasa rinduku untuk duduk sambil menatap sekumpulan orang yang hadir dalam acaraku, kini sedikit terobati di kala kubaca isi surat yang dibungkus plastik terang dan licin.

”Yth. Bapak Saman.... Kami selaku Panitia Festival Budaya Daerah memohon Bapak untuk berkenan mementaskan kesenian lamut dalam rangka memeriahkan HUT ke-63 RI. Atas perhatian dan perkenan Bapak, kami sampaikan terima kasih.”, demikian sepenggal isi surat yang kubaca.

Hatiku yang telah lama mendamba untuk membuat orang-orang tersenyum bahagia, kini terasa tenang. Setenang genangan air hujan di jalan yang berlubang karena dilupakan sang empunya kekuasaan. Ternyata masih ada kesempatan untuk orang tua sepertiku mementaskan kesenian ini.

”Ya Allah, aku benar-benar bersyukur kepada-Mu atas kebahagiaan yang kudapatkan ini. Hatiku kini tentram karena-Mu. Perkenankanlah hamba-Mu ini untuk kembali memetaskan kesenian yang hampir dilupakan orang-orang di hari yang akan datang.”, ucapku lirih dalam doaku.

”Kek, ada yang datang mencari Kakek. Orangnya masih muda dan bertubuh kekar. Nama orang itu Alimuddin.”, cucuku yang hampir remaja tiba-tiba memberitakan hal yang tak kuduga itu, entah siapa.

”Suruh orang itu masuk.”, pintaku kepadanya.

***

Assalamu’ailaikum.”, sapa orang itu dengan manis dan lembut.

Wa’alaikumussalam.”, jawabku singkat kepadanya.

”Maaf Pak. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Rifani. Saya seorang wartawan salah satu surat kabar harian di kota ini. Tujuan saya ke mari untuk mewawancarai Bapak berkenaan dengan lamut.”

”Syukurlah masih ada yang berminat untuk mengetahui seputar perkembangan kesenian yang hampir dilupakan orang ini.”, kataku, ”Bapak berharap nak Rifani dengan tulus meliput perkembangan lamut dari hati nurani untuk turut melestarikan kesenian yang hampir musnah ini.”, imbuhku.

Beberapa pertanyaannya dapat kujawab dengan lancar hingga satu pertanyaan darinya yang membuat lidahku kelu untuk berkata. Sebuah pertanyaan menyangkut pewaris kesenian yang dari dulu aku geluti ini, benar-benar membuat hatiku miris semiris-mirisnya. Betapa tidak, hingga kini belum ada generasi muda yang sudi berguru kepadaku untuk dapat mementaskan lamut di hadapan penonoton. Ah, sedihnya hati ini.

Pemuda itu terdiam menatapku yang tak dapat berkata-kata lagi. Diraihnya alat perekam yang dari tadi ia letakkan di meja tamuku.

”Sudahlah Pak. Saya mengerti apa yang ada dalam pikiran Bapak. Sebelumnya saya sudah mendengar tentang hal terakhir yang saya tanyakan tadi. Maaf pak, sekali lagi saya meminta maaf kepada Bapak atas pertanyaan yang membuat Bapak sedih.”, kata pemuda itu kepadaku dengan rasa simpati yang cukup tinggi buatku.

Tidak lama pemuda itu mohon diri meninggalkan rumahku dengan wajah yang seakan turut tenggelam menyaksikan raut wajah tuaku yang sedih. Aku tak dapat mencegahnya untuk itu. Kubiarkan ia melewati pintu dan pagar rumahku.

Satu hari telah lewat dan kurenungi kembali pertanyaan pemuda kemarin sore itu. Sendainya lidahku dapat berkata kala itu, akan kukatakan, ”Kini tinggal aku yang masih aktif dalam kesenian yang kudapat dari ayah kandungku sendiri. Tak ada satu pun pewaris yang meminta warisan lamut dariku.” Oh, sakitnya hati ini jika menyangkut generasi muda yang tiada peduli terhadap kelestarian lamut di tanah kelahiranku. Tapi, aku tidak dapat menyalahkan mereka, terutama bagi mereka yang memilih berkesenian lainnya, kesenian daerah dan modern. Toh, juga kesenian yang sama-sama harus dilestarikan. Hanya yang membuat hatiku jatuh berkeping-keping adalah, mengetahui ada generasi-generasi muda yang lebih memilih menelan obat terlarang dan meminum minuman keras daripada melestarikan kesenian di daerah mereka sendiri. Ya, tempat kelahiran mereka juga telah mereka nodai dengan perbuatan buruk mereka itu.

Aku mainkan kembali terbang tuaku untuk mengiringi suaraku yang hampir habis ditelan zaman. Kunikmati sendiri merdunya irama yang dihasilkan dari kulit kering dan kayu yang berongga besar di teras depan rumahku. Kadang anak-anak dan cucu-cucuku mau mendengarkan permainanku. Walau mereka tak ada yang mau meneruskannya, hatiku sangat bahagia jika mereka mau menonton pertunjukan tuaku itu.

***

”Sudah siap Pak?” tanya salah seorang panitia penyelenggara kepadaku.

”Bapak sudah siap, insya Allah Bapak akan segera tampil.”, jawabku singkat.

Segera kutabuh terbang tuaku dengan sebaik mungkin agar iramanya merdu di telinga para undangan. Semoga saja dengan penampilanku malam ini, banyak orang yang berminat kembal terhadap kesenian yang telah lama kehilangan banyak peminat ini. Setidak-tidaknya pemerintah daerah mau memperjuangkan lamut tetap lestari di tengah budaya modern yang semakin mengglobal. Tepuk tangan yang riuh mengiringi penampilanku.

”Bapak harap tahun depan akan ada lagi acara serupa.”, pesanku kepada pihak panitia penyelenggara peringatan HUT ke-63 RI, ”Insya Allah bapak akan datang jika ada permintaan tahun depan”, tambahku.

Mereka tersenyum dan seraya menganggukkan kepala. Aku benar-benar senang hari ini. Lama tak kutemui suasana hati yang mebahagiakan seperti ini.

***

Sore di bawah rintik hujan seorang datang kepadaku. Ya, wartawan itu. Pemuda tempo hari datang kembali. Kulihat wajahnya yang cerah menerangi redupnya sang surya yang sedang enggan bersinar. Segera kubukakan pintu perhatianku kepadanya.

”Ada yang tertinggal Nak hingga kau datang kembali?” tanyaku menggoda.

”Ya, ada yang tertinggal Pak.”, katanya serius.

”Apa? Silakan kauambil yang tertinggal itu.”

”Ilmu dan akan saya ambil dari jiwa Bapak yang ikhlas.”

Kupandangi wajahnya yang serius dan teramat serius buatku. Kulihat sebuah keinginan yang benar-benar dalam darinya.

”Bapak hanya memiliki ilmu berlamut yang dianggap orang sudah usang. Ini titipan dari-Nya. Jika kau menginginkannya, bapak akan menuliskannnya dengan ikhlas dalam dirimu.”

”Alhamdulillah.” ucapnya singkat namun penuh makna yang dalam.

Akupun mengucapkan puji dan syukur kepada-Nya atas anugerah yang sangat indah ini buatku, seorang pewaris.

Perlahan kuajarkan kepadanya yang kutahu. Tiada keinginan dariku menyembunyikan satu ilmu pun darinya. Bagiku murid bukanlah calon saingan dalam berkesenian lamut. Murid adalah teman dan pewaris yang selalu kunanti kedatangannya. Malang melintang di dunia kesenian di daerahku memang bukanlah hal yang membuat hidupku menjadi kaya uang dan harta. Tapi dengan kesenian, hari-hariku terisi dengan kekayaan hati dalam indahnya berbagi sebongkah cerita dan secuil pengetahuan. Kedatangan murid yang mau bergumul dengan seni yang kubawa dari waktu ke waktu ini sungguh nikmat yang luar biasa. Ya, Andi adalah nikmat dari-Nya untukku.

***

Kini pewarisku sudah mampu mementaskan lamut di hadapan penonton. Usiaku semakin senja dan mendekati malam dengan goresan dosa-dosaku di masa laluku.

”Pak, saya permisi pulang. Hari sudah mulai gelap.”, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara Andi yang sudah berdiri di sampingku.

”Ya, hati-hatilah Nak di jalan. Salam untuk orang tuamu di rumah.”

Tak lama setelah Andi pulang, suara telepon rumahku berdering nyaring. Segera kuangkat dan betapa girangnya hatiku mendengar berita akan diselenggaraknnya festival kesenian nasional. Aku menjadi wakil daerahku untuk mementaskan kesenian lamut secara nasional. Februari mendatang aku dijadwalkan tampil di Jakarta untuk menghibur dan berbagi secuil pengetahun kepada orang-orang di sana.

”Inikah buah dari kesabaranku selama ini ya Allah? Hamba-Mu ini benar-benar senang menerima nikmat-Mu ini. Tak kusesali sedikit pun jerih payahku melestarikan kesenian daerah dengan jalan yang terseok-seok selama ini. Hamba sungguh bersyukur kepada-Mu. Izinkan hamba untuk meneruskan kesenian ini hingga napas terakhir hamba di dunia ini.”, ucapku lirih dalam doaku selesai salat Magrib di musala samping rumahku.

***









CERPEN TUJUH BELAS MAHMUD JAUHARI ALI





Dakwahnya Menyentuh Hatiku

Cerpen Mahmud Jauhari Ali


Seorang lelaki setengah baya berhidung mancung berjalan melintasiku. Kulit jari manisnya dihiasi cincin perak bamata hijau ranum. Bajunya rapi dan terlihat bersih. Lelaki itu berjalan mendekati seorang nenek tua yang hendak manyeberangi jalan raya. Aku terharu malihatnya. Pada masa sekarang masih ada orang yang baik hati mambantu orang lain dalam kesusahan. Lelaki itu kembali melintasiku lagi dan kali ini matanya menatapku sekali.

“Assalamu’alaikum”, lelaki setengah baya itu manyapaku.

“Wa’alaikumussalam”, jawabku dengan agak sedikit bingung.

Aku merasa pernah melihat lelaki itu, tetapi aku tidak ingat persisnya di mana. Ia tersenyum kepadaku kala melintasiku. Aku maneruskan perjalananku ke arah pasar. Aku membeli celana panjang dan baju kaos berwarna merah muda. Saat aku bajalan kembai ke rumahku, aku bertemu kembali dengan lelaki tadi. Saat itu kulihat lelaki itu masuk ke dalam masjid di dekat pasar. Ia terus masuk tanpa menoleh ke rah lain sehingga ia tidak melihatku. Langkahku terus kuayunkan ke arah rumah.

Lelah, penat, gerah, dan lapar sangat terasa sekali olehku setelah aku sampai di rumah. Aku masih teringat dengan lelaki setengah baya tadi. Aku penasaran, siapa gerangan lelaki itu karena aku yakin pernah melihat ia sebelumnya. Sore harinya aku diminta ibuku ke warung membeli telur ayam kampung. Jarak warungnya cukup jauh dari rumah tempat tinggalku. Kupilih lima belas butir telur ayam kampung yang baik pesanan ibuku.

“Berapa Pak harga lima belas butir telur ayam kampung ini?” tanyaku sambil menunjuk telur-telur yang sudah kupilih.

“Enam belas ribu rupiah Nak.”

Sengaja tidak kutanyakan harga per butirnya karena saat itu aku sedang malas manghitung harga sebutir telur dikali lima balas butir.

Aku terkejut, saat aku megetahui uang ibuku ternyata tertinggal di atas lamari hiasku. Setiap kali aku hendak bepergian, aku memang tidak pernah lupa berhias terlebih dahulu. Menurutku penampilan itu termasuk urusan yang penting dalam hidup. Sialnya, dompetku pun tidak kubawa. Pikirku, akan terasa lelah sekali jika aku harus kembali pulang ke rumah mangambil uang itu. Terlintas dalam pikiranku untuk berhutang telur kepada pemilik warung.

“Assalamu’alaikum!”

Aku terkejut mendengar suara salam dari arah balakangku. Suara itu sekaligus memecah pikiranku yang sedang bingung. Kulihat di balakangku. Bertambah terkejutlah aku. Pasalnya, lelaki setengah baya yang bertemu denganku tadi siang sudah ada di hadapanku saat ini.

“Wa’ailaikumussalam!” balasku sekenanya.

“Kamu sedang menunggu jemputan ya?” tanyanya dengan nada bercanda.

Aku heran dengan pertanyaan itu. Pertanyaannya mamberi kesan kalau ia mengetahui tentangku dan tentang pekerjaanku.

“Aku tidak sedang menunggu siapa-siapa.”

“Kamu sedang ada masalah saat ini?”

Lelaki itu rupanya senang bertanya, dalam pikiranku. Ia memang telihat seperti orang terpelajar dari penampilannya.

“Ya, aku sedang ada masalah. Uang ibuku dan dompetku tertinggal di rumah dan saat ini aku sedang bingung untuk membayar lima belas telur ayam kampung yang hendak kubeli.

“Barapa harganya?” ia kembali bertanya kepadaku dan kujawab seadanya.

“Pak, ini uangnya.” Lelaki itu berkata sambil menyerahkan uang kepada pemilik warung.

Aku heran mengapa orang ini senang sekali membatu orang lain. Pohon hidup dengan adanya akar, bergitu pula dengan manusia yang berbuat dengan adanya alasan. Saat kukatakan terima kasih dan bertanya kepadanya mengapa ia senang membantu orang lain, ia hanya mengatakan bahwa kita wajib menolong orang yang sedang mengalami kesusahan semampu kita. Kata-katanya pendek , tetapi penuh arti. Aku saat itu hanya mengangguk-anggukan kepalaku sebagai tanda bahwa aku mengerti dengan perkataannya.

“Kamu tenang saja, uang yang kupakai tadi adalah uang yang halal. Wassalamu’alaikum ”, katanya saat ia hendak pergi meninggalkanku.

Aku tidak berkata apa-apa lagi saat itu kepadanya selain ucapan salam. Kulangkahkan kakiku menuju rumah. Aku masih bertanya-tanya sendiri tentang lelaki itu. Dalam pikiranku, siapa gerangan lelaki itu. Ia mengingatkanku dengan ayaku yang telah lama meninggalkan aku dan ibuku untuk dapat hidup bersama dengan wanita lain. Aku sudah lupa wajah ayahku. Saat ayahku menceraikan ibuku, aku masih berusia lima tahun. Semua foto ayahku pun sudah dimusnahkan ibuku. Aku memakluminya karena wanita mana yang tidak sakit hati ditinggalkan lelaki yang sangat dicintainya. Kulupakan soal lelaki itu dan ayahku, pasalnya aku harus menyiapkan pakaianku untuk kupakai nanti malam.

***

Malam harinya aku kembali melangkahkan kedua kakiku di luar rumah. Banyak orang di jalanan. Ada yang bajalan sepertiku, bersepeda, berkendara, dan banyak juga yang bermobil. Kotaku selalu ramai walau hari sudah malam. Malam itu kupakai celana panjang dan baju kaos berwarna merah muda yang kubeli tadi siang. Aku sering berjalan di malam hari. Saat di tengah perjalanan, hujan lebat menyerangku secara bertubi-tubi. Aku langsung lari ke arah warung bakso yang ada di dekatku untuk berteduh. Malam itu udara sangat dingin. Aroma bakso tercium di hidungku. Perutku menjadi lapar karena menciumnya. Ingin sekali aku makan bakso saat itu, tetapi uangku yang masih bertengger di dompetku sisa sedikit setelah aku membeli celana panjang dan baju kaos yang sedang kupakai ini.

“Assalamu’ailaikum!”

Salam dan suara itu sudah akrab di talingaku. Aku tidak terkejut lagi, melainkan aku bingung mengapa lelaki itu terus mengikutiku.

“wa’alaikumussalam!” balasku.

“Ayo makan! Aku taraktir kamu malam ini makan bakso.”, katanya.

Kami makan bakso bersama malam itu. Aku duduk di sampingnya. Udara malam menjadi teman kami saat itu. Lelaki itu banyak bertanya tentangku, mulai dari namaku, tempat tinggalku, hingga pekerjaanku. Saat lelaki itu bertanya soal pekerjaanku, aku terpaksa mendustainya. Aku katakan kepadanya bahwa aku bekerja bersama ibuku berjualan kain di pasar. Aku berdusta karena aku tidak mau mengatakan pekerjaanku yang sebenarnya kepada lelaki itu. Bakso yang kami makan sudah habis. Hujan pun telah reda. Kini saatnya kami harus berpisah.

Aku merasa lelaki itu sengaja mengikuti aku. Aku juga merasa sebenarnya lelaki itu sebenarnya hendak manyadarkan aku dari parbuatan yang selama ini aku perbuat. Selesai dengan pekerjaanku, aku langsung pulang ke rumah. Terasa lelah sekali tubuhku saat aku kembali di rumah. Kurebahkan tubuhku di atas alas kasur kesayangaku yang empuk. Tak terasa, sudah empat jam aku tidur. Tidurku sangat nyenyak. Saat siang hari, aku sendirian di rumah. Ibuku setiap pagi sampai siang hari berjualan kue pisang di perempatan jalan. Perempuan seusiaku sebenarnya masih duduk di bangku sekolah. Akan tetapi, aku malah di rumah. Aku putus sekolah saat aku duduk di bangku kelas dua Sekolah Lanjutan Menengah Pertama. Tidak ada biaya lagi untukku melanjutkan sekolah. Siang hari pekerjaanku memasak di rumah untuk makan kami sekeluarga. Walau hanya aku dan ibuku, kami adalah keluarga yang bahagia. Biasanya kami makan bersama di samping rumah sambil menikmati hembusan angin yang sejuk dari sela-sela pepohonan milik kami.

***

Tidak terasa hari sudah gelap kembali. Aku pun harus mencari uang seperti biasanya. Malam itu malam yang kesekian kali aku bekerja.

“Rat ada orang.”, pak Udin mamberitahukanku.

“Di dalam ya Pak orangnya?” tanyaku kepada pak Udin.

“Ya, masuk saja di kamar 31.”, jawab beliau.

Kumasuki kamar 31. Malam itu terasa berbeda di batinku. Aku terkejut sekali setelah aku tahu orang yang ada di kamar 31 itu lelaki setengah baya yang sering menemuiku.

“Terkejut ya melihatku ada di sini?” tanya lelaki itu kepadaku.

“Ya, aku akui hatiku terkejut.”, jawabku lirih.

“Jangan salah sangka padaku! Aku ada di sini bermodal nekad. Aku sudah tidak tahan melihatmu yang masih sangat muda harus bekerja di tempat-tampat seperti ini.”

“Jadi sebenarnya Bapak sudah tahu tentangku?”

“Ya, benar sekali katamu. Aku sengaja mengikuti dan mencontohkan perbuatan yang baik di hadapanmu agar kamu sadar kalau sebenarnya berbuat baik itu lebih bermanfaat daripada berbuat sebaliknya.”

“Ya, yang Bapak katakan itu benar dan aku salah.”

“Maaf jika kamu beranggapan bahwa aku terlalu cerewet dalam hal ini! Aku ini hanya ingin menyerumu ke jalan kebaikan agar kamu dapat memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya.”

Air mataku langsung mengucur di atas kedua belah pipiku. Lelaki itu tersenyum melihatku. Dalam pikiranku, andai ia adalah ayahku akan kupeluk erat-erat tubuhnya.

“Masih bisakah tobatku diterima-Nya?”

“Mengapa tidak?”

“Senyumku kembali merekah di kedua bibirku.”

***

Setelah malam itu berlalu aku tidak lagi menginjakkan kakiku di tempat-tempat seperti itu. kujalani hidupku dengan normal bersama ibuku yang sangat aku sayangi. Kubuang jauh-jauh kenangan burukku dari kehidupanku. Kini, aku berjualan kue pisang menggantikan ibuku yang sudah mulai tua. Ibuku kuminta untuk istirahat di rumah. Aku meikmati pekerjaanku sekarang. Sewaktu-waktu aku masih teringat dengan lelaki setengah baya yang pernah mampir di kehidupanku itu. Entah siapa sebenarnya lelaki itu.

***


CERPEN ENAM BELAS MAHMUD JAUHARI ALI




Saat Cemburu Membakar Jiwa

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Pagi itu Hamid berdiam diri dengan mata tertutup. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Kedua kakinya kadang-kadang digerakkannya untuk menghindari keram. Tangan kanannya memegang tasbih, tetapi tidak ia fungsikan. Bibirnya kerap digerakkannya. Sementara ibunya sedang menyiapkan makanan di ruang makan untuk mengganjal perut mereka.

“Mid! Ayo kita makan bersama!” suara nyaring ibu kandungnya yang bernama Maryani dari ruang makan membuat Hamid tersentak kaget.

“Ya, tunggu sebentar Bu! Hamid akan segera ke sana.” balas Hamid dengan suara yang nyaring pula.

Tidak lama Hamid mendatangi ibunya di ruang makan.

“Duduklah! Apa keputusanmu tentang pembicaraan kita tadi malam?”

Hamid terdiam sejenak. Diminumnya sedikit air teh hangat buatan ibunya. Ia pun segera membuka mulutnya untuk bicara.

“Sebenarnya sejak awal saya berniat menuruti kata-kata ibu. Namun, saya berpikir apakah pernikahan ini tidak terlalu cepat. Bagaimana jika diundur satu tahun lagi atau beberapa bulan kemudian. Saya sendiri belum siap menjadi seorang suami. Kuliah saya juga belum selesai Bu.”

“Ibu ingin sekali segera menimang cucu darimu Nak. Kau tahu sendiri kini ibu hanya memiliki satu anak, yaitu kamu. Seandainya kedua kakakmu masih hidup, tentulah ibu tidak memintamu menikah tahun ini.”, ibunya terdiam sejenak untuk menghela nafas.

”Seandainya kecelakan itu tidak terjadi….”, ibunya tidak sanggup meneruskan kata-kata beliau dan air mata pun segera bergulir di kedua pipi tua beliau.

“Maafkan Hamid Bu! Sungguh, Hamid tidak bermaksud membuat ibu sedih pagi ini.Ya, ya Bu, Hamid akan menuruti kata-kata Ibu. Hamid mau menikah tahun ini.”

”Benarkah kata-katamu itu Nak? Ibu tidak sedang bermimpi ’kan?”, senyum pun segera merekah di bibir ibunya setelah mendengar perkataan Hamid.

***

Siangnya mereka mendatangi sebuah rumah di pinggir sungai yang terletak jauh dari tengah kota. Rumah itu adalah milik pak Musa. Sudah dua tahun silam pak Musa dan almarhum ayah kadung Hamid ingin menikahkan anak mereka. Pak Musa adalah teman akrab ayah kandung Hamid sejak kecil. Dahulu yang ingin mereka nikahkan adalah almarhum Sofyan dengan Latifah. Karena kedua kakak kandung Hamid telah meninggal dunia dan Latifah belum juga menikah, pak Musa dan ibu kandung Hamid ingin menikahkan Hamid dengan Latifah.

“Assalamu’alaikum!” sapa Hamid di depan pintu pak Musa.

Tidak ada jawaban dari siapa pun di dalam rumah itu. Sempat mereka mengira tidak ada orang di rumah pak Musa. Salam kedua pun dilontarkan Hamid. Kali ini ada jawaban dari pak Musa di dalam rumah.

“Wa’alaikumussalam!” sahut pak Musa yang saat itu sedang menenteng gitar buatan beliau.

“Apa kabar Pak?” tanya bu Maryani.

“Wah! Untunglah kalian datang. Kabarku sekeluarga baik. Ayo masuk!”

“Mana Latifah Kak?”

“Latifah sedang ada di rumah temannya. Mungkin sebentar lagi ia akan kembali. Tunggu sebentar ya! Aku ke belakang sebentar.”

Hamid jarang sekali bertemu dengan Latifah. Ia pernah dua kali bertemu dengan Latifah, tetapi Hamid sudah agak lupa dengan wajah calon istrinya itu.

”Syukurlah ada fotonya di dinding.” ucap Hamid dalam hati.

Dipandanginya foto Latifah di ruang tamu rumah pak Hamid dengan wajah yang bahagia.

“Ya Allah, inikah wajah jodohku dari-Mu. Aku terima segala keputusan-Mu. Seandainya ia memang jodoh untukku, jadikanlah ia penyejuk hatiku dan penyemangatku dalam beribadah kepada-Mu.” ucap Hamid lagi dalam hatinya.

“Mid, ayo diminum!” ajakan pak Hamid membuat Hamid kaget.

“Astaghfirullah! Ya Pak, terima kasih.” jawab Hamid sambil berjalan menuju tempat duduknya.

Sekitar setengah jam mereka berbincang-bincang di sana.

***

“Assalamu’alaikum!” sapa seorang gadis muda kepada mereka yang sedang asyik tertawa kecil.

“Wa’alaikumussalam!” jawab mereka.

Jantung Hamid berdetak dengan kencang. Latifah membuatnya salah tingkah. Maklum Hamid jarang bergaul dengan gadis-gadis selama ini di sekitarnya. Saat Latifah menatap wajahnya, Hamid segera menundukkan kepalnya karena malu. Keringat dingin pun keluar membasahi dahi dan lehernya.

“Fah, ini Hamid. Kamu masih ingat ‘kan?” kata bu Maryani.

“Ya Bu, Latifah masih ingat.”, jawab Latifah dengan malu-malu.

“Bagaimana Nak Hamid, anakku cantik ‘kan?”

Sambil tersenyum Hamid pun menganggukkan kepalanya. Tidak dapat ia luncurkan kata-kata dari mulutnya.

“Latifah, kamu setuju ‘kan dengan rencana pernikahan ini?” bu Maryani bertanya kepada calon menantunya untuk mencari kepastian.

Latifah hanya tersenyum sebagai tanda bahwa ia setuju.

Jadwal pernikahan pun segera mereka susun. Jika tidak ada aral melintang, dua minggu lagi Hamid dan Latifah menikah.

***

“Permisi! Permisi!” terdengar suara lantang dari luar rumah pak Musa sehari setelah Hamid dan ibunya datang di sana.

“Kamu lagi! Belum puas juga dengan penjelasan saya tempo hari? Sadarlah bahwa anakku tidak ada perasaan apa-apa padamu!”

“Bapak yang seharusnya sadar bahwa anak Bapak memiliki hak untuk memilih pasangannya sendiri! Bukannya dijodoh-jodohkan. Memangnya Bapak adalah Tuhan yang berhak menentukan jodoh seseorang? Berikan saya kesempatan untuk membuat anak Bapak memilih saya sebagai suaminya!”

“Hai anak muda! Dua minggu lagi anakku akan menikah dengan pria baik yang menyayangi anakku.”

“Baik, jika itu kemauan Bapak. Saya akan membuat Bapak menyesal selamanya. Permisi!”

Pemuda itu segera meninggalkan rumah pak Musa dengan raut wajah yang kusam.

Tiga hari yang lalu pemuda itu juga bertamu di rumah pak Musa. Namanya Karim. Ia pemuda yang jatuh hati kepada Latifah. Pekerjaannya sebagai pengelola tempat hiburan malam. Pak Musa sangat keberatan jika beliau memiliki menantu seorang yang bergelut di bidang hiburan yang tidak disukai oleh sebagian besar masyarakat. Awalnya Karim datang baik-baik untuk melamar Latifah. Namun setelah lamarannya ditolak, ia pun berani melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada pak Musa.

***

Hari pernikahan yang ditunggu akhirnya tiba juga. Hamid memakai pakaian adat pernikahan di daerahnya. Latifah juga memakai pakaian adat dengan ditambah kerudung. Wajah mereka terlihat sangat bahagia.

“Kamu cantik sekali Latifah. Hamid sudah menunggumu.”, kata pak Musa diiringi senyum beliau.

”Latifah gugup Pak. Jantung Latifah dari tadi berdetak dengan kencang.”

”Itu hal yang wajar. Kamu tidak usah mempermasalahkannya. Almarhumah ibumu dahulu juga gugup saat hendak Bapak nikahi.”

Latifah dan Hamid kini duduk bersanding. Akad nikah pun akan segera dilaksanakan.

Tiba-tiba terdengar suara Karim dengan lantang.

”Hentikan acara pernikahan ini! Sampai kapan pun saya tidak akan mau menyetujuinya!”

”Apa hubunganya pernikahan ini dengan persetujuanmu? Memangnya kamu siapa berani mengatakan hal seperti itu? Pergi dari sini sebelum aku memanggil polisi untuk menangkapmu!” kata pak Musa dengan sangat ketus.

”Dooor!” suara letusan pistol Karim membuat orang-orang berhamburan keluar dari rumah pak Musa.

”Hentikan pernikahan ini atau pistol ini akan melukai banyak orang di sini!” Karim kembali mengingatkan orang-orang di rumah pak Musa dengan nada marah.

”Karim! Kamu yang seharusnya menghentikan tindakan tercelamu ini! Sadarlah bahwa kita tidak cocok. Aku pun tidak pernah mencintaimu.” Latifah angkat bicara.

”Dengar itu baik-baik!” kata pak Musa.

”Diam! Diam! Jangan menceramahi saya lagi! Latifah ayo ikut aku!”

”Tidak ada yang boleh membawa Latifah selain diriku. Kamu sebaiknya jangan bertindak seperti kanak-kanak!” Hamid yang sejak tadi diam kini ikut bicara.

Tidak ada suara keluar dari mulut Karim setelah ia mendengar kata-kata Hamid. Mulut Karim terkunci oleh api cemburu yang sangat besar. Tangan kanannya dia arahkan ke tubuh Hamid. Seketika itu pula tubuh Hamid roboh bersimbah darah. Peluru Karim berhasil menembus tubuh Hamid.

”Tidak...!” teriak bu Maryani.

Rupanya Karim belum puas menembuskan satu peluru di tubuh saingannya itu. Latifah yang melihat Hamid ingin menembakkan pelurunya yang kedua kalinya ke tubuh calon suaminya itu langsung menjadikan dirinya perisai. Tidak pelak lagi, Latifah pun roboh.

”Apa yang sudah aku lakukan. Latifah, Latifah, maafkan aku!” ucap Karim dalam hati kecilnya.

Karim pun segera melarikan diri. Tidak ada satu pun warga yang berhasil menangkapnya. Ia berhasil lolos dengan pistol di tangannya. Polisi segera mengadakan pencarian. Setelah beberapa hari buron, akhirnya Karim berhasil dibekuk pihak aparat.

***

”Hai anak muda! Apa kesalahanmu sehingga saat ini kamu ada di sini?” tanya seorang napi tua di ruang tahanan Karim berada.

”Aku telah menembak dua orang.” jawab Karim singkat.

”Keduanya tewas?”

”Mereka tidak tewas, tetapi saat ini masih belum sadarkan diri.”

”Apa alasanmu menembak keduanya? Kamu masih muda dan tidak selayaknya kamu berada di sini. Kamu seharusnya membangun negara ini dan bukannya meringkuk di sini”

”Saya melakukannya karena rasa cemburu yang besar.”

”Ha ha ha ha...ha! Hai anak muda! Kamu jangan biarkan dirimu dikuasai hawa nafsu jelekmu! Cemburu seharusnya kamu buang jauh-jauh! Jika kamu mencintai seorang wanita tentulah kamu memiliki kepercayaan kepadanya. Untuk apa ada cemburu? Kecuali kamu tidak memiliki kepercayaan kepadanya dan itu berarti kamu belum mencintainya dengan sepenuh hati.”

Karim benar-benar tidak bisa membantah kata-kata orang tua di hadapannya. Karim baru sadar bahwa selama ini dia belum mencintai Latifah sepenuh hati. Dia sadar selama ini hanya ketertarikanlah yang melekat di hatinya kepada Latifah.

***

Empat hari sudah berlalu setelah insiden berdarah itu terjadi. Hamid dan Latifah masih dalam kondisi lemah. Mereka belum dapat berdiri. Darah mereka banyak keluar saat terjadi penembakan tempo hari lalu. Syukurlah ada beberapa kantong darah yang cocok dengan golongan darah mereka.

”Kak Hamid! Bagaimana jika kita melangsungkan nikah di rumah sakit saja?” tanya Latifah yang di rawat di samping Hamid.

”Tentu aku setuju dengan usulmu itu Latifah. Nanti insya Allah aku akan sampaikan rencana ini kepada keluarga kita.”

Pak Musa dan ibu Maryani datang menjeguk mereka untuk yang ke sekian kalinya. Kali ini mereka berdua bahagia karena mendengar Hamid menyampaikan rencana pernikahannya dengan Latifah di rumah sakit sesegera mungkin.

”Wah! Itu usul yang bagus sekali Mid, Fah.” seru pak Musa.

”Besok kami usahakan kalian menikah di sini.” sahut bu Maryani.

Mereka melangsungkan pernikahan sangat sederhana di rumah sakit. Mereka duduk berdua di majelis nikah jauh dari kesan mewah. Meskipun demikian, kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Kini mereka telah menjadi pasangan suami istri dan mulai menapaki bahtera rumah tangga.



CERPEN LIMA BELAS MAHMUD JAUHARI ALI







Sepupuku Murjani

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Aku terdiam sejenak mendengar perkataan Murjani,

“Rasyid, maafkan aku! Aku sadar bahwa aku salah kepadamu. Dahulu, saat aku masih muda dan kaya aku sangat sombong dan tega kepadamu sekeluarga. Kini, aku sudah tua dan miskin. Sebagian besar hartaku telah disita oleh pihak bank karena aku tidak sanggup membayar hutang-hutangku kepada mereka. Istriku dan anak-anakku telah pergi meninggalkanku sendiri.”

Aku masih ingat bagaimana perlakuannya dulu kepadaku sekeluarga. Saat aku masih menjadi anak buahnya di perusahaan warisan orang tuanya dulu, ia sangat tega tidak mengizinkanku pulang untuk sekadar menjenguk istriku yang sedang sakit muntaber.

“Ah! Isrtimu hanya sakit sedikit saja kamu sudah ingin pulang meninggalkan pekerjaanmu hari ini! Aku tahu saat ini kamu hanya menjadikan sakit istrimu sebagai alasan dari kemalasanmu bekerja. Aku tidak akan mengizinkanmu pulang, kecuali istrimu itu sekarat di rumah sakit. ”, katanya pedas waktu dulu kepadaku.

Begitu pula saat kami sekeluarga ingin meminjam uang kepadanya sekadar untuk membeli beras dan lauk-pauk ia berkata,

“Tempatku bukanlah bank yang dapat kalian datangi untuk meminjam uang. Dahulu aku pernah meminjami kalian uang, tetapi sampai detik ini kalian belum melunasi bunganya seratus persen kepadaku. Kini, kalian ingin meminjam uang lagi kepadaku. Tidak! Aku tidak akan memberikan kalian pinjaman uang. Sebaiknya kalian lekas tinggalkan tempatku ini sebelum aku mengusir kalian dengan paksa!”

Dua tahun berikutnya saat istriku melahirkan anak kedua kami, aku terpaksa tidak masuk kerja. Dia saat itu memberiku izin hanya dua hari. Karena keadaan istriku yang masih lemah dan membutuhkanku di sisinya, aku terpaksa tidak dapat masuk kerja sebagaimana mestinya selama dua hari di luar izin yang diberikannya kepadaku. Dia datang ke rumahku ditemani dua tukang pukulnya yang gagah dan berotot besar. Kukira ia ingin melihat anakku yang baru lahir, tetapi dugaanku salah besar. Ia berkata,

“Kamu sudah melanggar aturan di perusahaanku. Kuberi kamu izin dua hari tidak masuk kerja untuk menjaga istrimu, tetapi kamu malah membolos selama dua hari setalah izin menemani isrtrimu habis. Karena itulah, aku datang kemari memberitahukanmu bahwa mulai hari ini kamu tidak perlu lagi datang di perusahaanku.”

***

Kini, dia menatapku dengan pandangan sayu. Rambutnya telah memutih. Kulit mukanya sudah berkeriput. Tubuhnya pun kurus, tidak gemuk seperti dulu.

“Murjani, masih ingatkah kamu saat istriku sakit muntaber dulu? Aku meminta izin kepadamu untuk menemaninya di rumah, tetapi kamu tidak mengizinkanku pulang. Saat itu aku sangat sedih. Padahal sebagai seorang pemimpin termasuk pemimpin perusahaan seperti dirimu, seharusnya kamu peduli terhadap kesejahteraan anak buahmu. Akan tetapi, kamu malah berlaku sebaliknya.”, kataku kepadanya.

“Masih ingatkah kamu saat aku sekeluarga meminjam uang kepadamu sekadar untuk membeli beras dan lauk-pauk? Saat itu kami benar-benar tidak punya uang. Kami kelaparan saat itu. Namun, kamu dengan tega tidak memberikan uang pinjaman kepada kami. Padahal saat itu kami tidak meminta, tetapi hanya meminjam uang kepadamu. Ingatlah bahwa kita haruslah saling menolong di jalan kebaikan. Ingatlah pula bahwa di antara harta kita terdapat hak orang miskin. Aku masih ingat benar saat itu kamu mengatakan bahwa kami belum membayar bunga hutang seratus persen atas pinjaman kami sebelumnya kepadamu. Apa saat itu kamu lupa bahwa bunga dalam setiap hutang-piutang itu hukumnya haram dalam agama kita? Terlebih lagi kamu mematok bunga yang besar kepada orang miskin seperti kami dulu.”, kataku lagi kepadanya.

“Hal yang sampai hari ini masih membayang di dalam kepalaku adalah saat kamu datang di rumahku untuk memberiku kabar bahwa aku tidak perlu lagi datang ke perusahaanmu. Sungguh, kamu tega Murjani memutus hubungan kerja denganku. Padahal kamu tahu bahwa aku menggantungkan hidupku sekeluarga pada pekerjaan di perusahaanmu itu.”, lanjutku.

***

Kulihat matanya berair dan kemudian pipinya basah terkena air mata penyesalannya dan rasa bersalahnya itu.

“Maafkan aku Rasyid. Sungguh kini aku telah menyesal berbuat seperti itu kepadamu sekeluarga. Aku sadar bahwa aku dahulu sombong dan kejam terhadap orang-orang disekitarku, termasuk dirimu sekeluarga. Sekali agi aku meminta maaf darimu, maafkan aku Rasyid!” pintanya kepadaku.

Semula aku tidak ingin memaafkannya karena bagiku kesalahannya sangatlah besar kepadaku. Akan tetapi, tiba-tiba aku teringat bahwa Allah Maha Pengampun. Sungguh tidak pantas aku sebagai makhluk-Nya tidak berjiwa pemaaf. Kutatap wajah Murjani yang sebenarnya tidak lain adalah sepupuku sendiri itu dengan perasaan iba. Wajahnya penuh rasa penyesalan dan rasa bersalah kepadaku. Tidak ada lagi semangat yang terpancar dari wajahnya seperti dulu. Aku segera mengatakan,

“Sudahlah! Kamu tidak perlu meminta maaf lagi kepadaku! Aku sudah memaafkanmu atas segala kesalahamu waktu dulu itu. Kini, kita sama-sama sudah tua dan tidak sekuat dulu. Usahamu pun sudah gulung tikar. Aku turut perihatin atas nasib yang kamu alami sekarang. Akan tetapi, aku juga turut bahagia kamu sudah mendapatkan petunjuk dari Allah untuk segera bertobat dan menginsafi kesalahan-kesalahnmu pada masa lalu.”

Ia kemudian mendekatkan dirinya dan menjabat erat kedua tanganku, serta berkata,

“Alhamdulillah dan terima kasih banyak Rasyid. Aku sangat menghargai pemberian maafmu kepadaku hari ini. Kini hatiku lapang telah mendapatkan maaf darimu.”

Segera ia memelukku dengan erat. Dia menangis dan air matanya membasahi bahuku.

“Ya Allah, begitu besar kekuasaan-Mu telah menyadakan hamba-Mu dari kesombongan, kekejaman, dan perbuatan buruk lainnya yang telah Murjani lakukan pada masa lalu” kataku dalam hati.

***






CERPEN EMPAT BELAS MAHMUD JAUHARI ALI





Hadi dan Mursidah

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

=====Namaku adalah Misran Yahadi. Aku biasa dipanggil oleh orang-orang yang mengenalku dengan nama Hadi. Usiaku sudah lebih dua puluh enam tahun. Tiga bulan yang lalu aku menikahi seorang wanita bernama Mursidah. Dia seorang wanita yang baik hati. Aku menikahinya bukan hanya karena parasnya yang manis, tetapi juga ia seoarang wanita solehah yang membuat hatiku merasa tentram bersamanya. Pertama kali aku mengenalnya saat aku menghadiri pesta pernikahan temanku di kota lain yang cukup jauh dari kotaku. Saat itu dia mendapat tugas memberikan pelayanan kepada para tamu undangan yang hendak makan di pesta itu. Aku termasuk salah satu tamu yang mendapat pelayanannya.

=====“Hei jangan terlalu mamandangi wanita, nanti kamu jadi tidak bisa tidur!” kata temanku.

=====“Ah siapa yang memandangi wanita?” kilahku padanya.

=====“Dia memang manis, tetapi jika dipandangi terus bisa hilang nanti manisnya!” temanku itu kembali menggodaku.

=====“Terserah kamu sajalah, yang penting aku tertarik padanya.”, kataku pada temanku itu. “Aku berencana mangajaknya nikah.”, tambahku.

=====“Kamu serius dengan kata-katamu itu?” tanyanya.

=====“Tentu aku serius!” jawabku ketus.

=====Sejak pertemuan itu, aku mencoba mencari tahu siapa gadis idamanku tersebut hingga akhirnya kami menikah. Kami saling mencintai dan membutuhkan dalam hidup berumah tangga.

Setelah satu bulan menikah, kami berencana belajar hidup mandiri dengan tinggal berdua di rumah sewaan. Kami tidak ingin terus-menerus tinggal di rumah orang tua. Setelah kami mencari rumah sewaan keliling di kotaku, akhirnya kami menemukan satu rumah sewaan yang masih kosong. Pemilik rumah sewaan itu bernama Haji Marwan. Beliau menetapkan harga sewa rumah yang kami tinggali itu per bulannya 250 ribu rupiah.

=====“Tolong kalian anggap rumah ini sebagai rumah kalian sendiri ya!”, kata Haji Marwan saat menyerahkan kunci rumah yang akan kami tinggali itu.

=====“Insya Allah akan kami anggap seperti keinginan Bapak”, sahutku kepada pak Marwan.

Rumah yang kami diami itu sangat nyaman. Aku dan istriku sangat senang tinggal di rumah tersebut. Kami hidup dengan rukun di sana.

=====Kini aku tinggal bersama orang tuaku. Sudah dua hari aku tidak bersama istriku. Kesendirianku bukan karena kami bertengkar. Dua hari yang lalu tejadi kebakaran besar di area rumah sewaan kami. Saat peristiwa itu terjadi aku sedang berada di kantor. Aku tidak sempat menemani istriku di sana. Sungguh aku menyesal dengan diriku sendiri. Seharusnya aku tidak pergi ke kantor hari itu. Kasihan istriku sendirian menghadapi kobaran api di tempat itu. Setelah aku sampai di tempat kejadian, orang-orang termasuk istriku sudah mengungsi ke berbagai tempat yang aman. Aku datang terlambat karena telepon selularku tertinggal di rumah sewaan dan kutemukan teleponku sudah hangus terbakar bersama barang-barang kami lainnya. Istriku yang belum mengenal daerah di kotaku kemungkinan tidak dapat menuju rumah orang tuaku. Saat ini aku sangat bingung dengan keberadaan istriku.

***

=====Aku adalah istri kak Hadi. Saat ini aku sedang mengalami penurunan mental secara drastis. Aku belum pernah berada sedekat itu dengan kobaran api yang besar saat kejadian dua hari yang lalu. Barang-barang kami habis terbakar. Aku hanya dapat membawa diriku dan pakaian yang sedang kupakai. Saat kebakaran terjadi aku seperti kehilangan akal sehatku. Aku sangat panik dengan keadaan di sana. Saat itu aku sangat bingung harus berbuat apa. Untunglah tetangga-tetanggaku mengajakku mengungsi ke tempat yang aman. Aku yang saat itu sangat takut, hanya bisa menuruti kemamauan mereka hingga sampai di tempat ini. Kini aku tinggal di rumah bibi Rahimah. Beliau sangat baik kepadaku.

=====Bibi Rahimah merupakan adik bibi Salamah yang tinggal bersebelahan dengan rumah sewaan kami dulu. Aku saat ini sangat merindukan suamiku.

=====“Ya Allah, kapan cobaan ini berlalu dan aku dapat hidup bahagia seperti dahulu?” keluhku sebagai hamba yang lemah.

Aku kadang-kadang manangis sendiri di kamar. Dua hari ini aku lebih sering menyendiri karena aku ingin menenangkan diriku dulu. Besok aku berencana mancari suamiku.

=====“Sabar ya Dah!” bibi Rahimah membangunkanku dari lamunanku.

=====“Saat ini saya sedang sedih dan bingung sekali Bi.”, kataku kepada beliau.

=====“Sudahlah, kamu jangan terus larut dalam kesedihan!” pintanya kepadaku. “Bagaimana jika besok kita mencari suamimu?” tanya beliau.

=====“Sungguh Bi? Saya memang ingin mencari suami saya besok.”, kataku dengan bersemangat.

=====“Untuk apa aku membohongimu? Aku sungguh ingin menemanimu besok mencari suamimu.” beliau meyakinkanku.

Hatiku sedikit lega dan pikiranku mulai jernih kembali. Bibi Rahimah berhasil mengembalikan jiwaku yang sebelumnya sangat lemah untuk meneruskan perjalanan hidup ini. Aku jadi tidak sabar untuk menunggu datangnya hari esok.

***

=====Pukul delapan pagi bibi Rahimah dan bibi Salamah menemani Mursidah mencari suaminya.

=====“Dah, kamu masih ingat ‘kan dengan alamat rumah mertuamu?” tanya bibi Salamah kepada Mursidah.

=====“Alamatnya di jalan Hiu Tutul nomor sembilan.”, jawab Mursidah.

=====“Rumah mertuamu itu berjarak sebelas kilometer dari sini.”, kata bibi Rahimah.

=====“Kita naik apa Bi ke sana?” tanya Mursidah kepada bibi Rahimah.

=====“Naik mobil pak Muhibul saja”

Ketiganya berangkat dengan menaiki mobil milik pak Muhibul. Mursidah sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan suaminya yang sangat dicintainya.

=====Sementara itu, Hadi masih mengadakan pencarian. Bahkan Hadi sudah memasang iklan keluarga di surat kabar harian berisi pencarian orang hilang, yakni istrinya. Hadi sangat terpukul dengan kejadian itu. Karena kejadian itu, ia harus kehilangan istri tercintanya. Sejak dua hari yang lalu Hadi jarang makan dan sering tidur larut malam. Keadaan jiwanya sungguh sangat gelisah.

=====“Hadi, janganlah kamu mondar-mandir seperti itu!” perintah ayahnya. “Duduklah di sini dan kita susun rencana kembali untuk mencari istrimu itu! tambah ayahnya lagi.

=====“Saya sungguh tidak tenang Yah. Sudah ke sana ke mari saya mencarinya, tetapi tidak ada hasilnya.”, kata Hadi.

=====“Sabarlah dulu Nak! Allah sedang mengujimu saat ini.”, ibunya ikut menenangkan Hadi.

Hadi saat itu memang sangat bingung dengan keberadaan istrinya. Hari itu ia putuskan untuk menyebarkan kembali foto istrinya kepada orang-orang untuk dapat menemukan belahan jiwanya itu.

Di tengah perjalanan mobil pak Muhibul yang ditumpangi Mursidah mengalami kerusakan mesin sehingga mereka tertahan di sana beberapa jam lamanya. Baru setelah pukul sebelas siang mereka meneruskan perjalanan kembali. Hati Mursidah kembali berbunga-bunga setelah sempat gelisah karena mesin mobil yang ditumpanginya rusak.

=====“Kita hampir sampai di Jalan Hiu Tutul Dah.”, bibi Rahimah memberitahukan Mursidah.

=====“Iya Bi, aku sudah kenal jalan ini.” sahut Mursidah.

=====“Belok kanan ya Pak!” pinta Mursidah kepada pak Muhibul.

=====“Rumah mertuamu ternyata bagus Dah.”, kata bibi Salamah.

Hati Mursidah sangat bahagia karena ia sudah berada di depan rumah mertuanya. Ia berharap dapat segera bertemu dengan belahan jiwanya. Rumah mertuanya terlihat sepi. Maklum Hadi dan sebagian orang rumah pergi mencari Mursidah. Di rumah saat itu hanya ada ibu mertuanya dan adik Hadi yang sedang memasak di dapur sambil menunggu kabar Mursidah.

=====Mursidah segera mengetuk pintu depan rumah mertuanya. Adik iparnya segera membukakan pintu dan menyambut Mursidah dengan suka cita. Ibu mertuanya dari dalam segera memeluk Mursidah dengan bahagia. Tidak lama kemudian peristiwa yang sangat mengaharukan terjadi. Hadi dan Mursidah saling menatap mata dan keduanya sangat bahagia. Hadi yang sempat berpikir tidak akan bertemu lagi dengan istrinya, kini ia benar-benar menyaksikan kekuasaan Allah yakni dipertemukan-Nya ia kembali dengan istri tercintanya. Saat itu semua yang ada di sana diliputi rasa bahagia dan haru. Senyum-senyum kegembiraan terlihat di bibir mereka.

***




CERPEN TIGA BELAS MAHMUD JAUHARI ALI

Sajadah

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

=====Tanganku masih terasa penat akibat mencuci sejumlah pakaian dan beberapa peralatan salatku dan orang tuaku. Setelah kucuci di sungai, aku pun menjemur cucian yang sudah bersih di belakang rumah kami. Untunglah hari ini cuacanya cerah.
=====“Lin, mana sajadahmu?” pertanyaan kak Rudi membuat jatungku tersentak kaget.
=====“Sajadahku tidak ada?” Kakak jangan bercanda!”
=====“Kalau kamu tidak percaya, lihat saja sendiri di jemuran!”
=====“Astaghfirullah! Kak Rudi benar. Karena tergesa-gesa, aku lupa kalau sajadahku tidak ikut kucuci.”, ucapku dalam hati.
=====“Mungkin sajadahmu larut di sungai.”, kata ibu dari dalam rumah yang melihatku di jendela rumah kami.
Segera kuberlari ke arah sungai tempatku mencuci tadi pagi. Kudapati tiga orang lelaki yang sedang memancing di sana.
=====“Cari apa Dik?” tanya salah seorang dari mereka kepadaku.
=====“Saya sedang cari sajadah saya yang kemungkinan terjatuh di sungai saat saya mencuci di sini.”
=====“Wah! Mungkin sudah jauh terseret arus sungai Dik sajadahmu itu”, kata pemancing lainnya kepadaku.
=====“Ikhlaskan saja Nak sajadahmu itu!” pemancaing lainnya yang terlihat lebih tua daripada yang lain ikut mengeluarkan pendapatnya kepadaku.
Ketelusuri sungai itu hingga aku menyerah dan mengikhlaskan hilangnya sajadahku. Dalam hati aku berucap, “Siapa pun yang menemukan sajadahku, kurelakan ia memilikinya.”

***

=====Hari ini aku terpaksa salat dengan alas kain putih lusuh yang terbentang di lantai dalam musala tempat aku biasa salat. Besok aku berencana membeli sajadah baru di pasar.
=====“Kak Rudi, boleh ‘kan Lina besok meminjam sepeda motor kakak ke pasar untuk beli sajadah?” tanyaku dengan nada sedikit memelas.
=====“Boleh, tetapi siang saja karena besok pagi kak Rudi akan mengantarkan baju-baju ini ke desa sebelah.”, ucap kak Rudi sambil menunjuk ke tumpukan baju kaos yang sudah disusunnya rapi.
=====“Terima kasih banyak Kak”, ucapku dengan hati yang bahagia.
Aku pun mulai merebahkan diriku yang lelah di atas kasurku dan berharap semoga besok hariku lebih baik daripada hari ini.

***

Cuaca siang ini secerah kemarin. Aku melaju cukup kencang dengan sepeda motor kak Rudi menuju pasar. Jarak pasar yang kutuju dengan rumah kami cukup jauh.
=====“Boleh Dik sajadahnya!” seorang penjual manawarkan sajadah dengan bermacam corak kepadaku.
=====“Berapa harga sajadah yang ini Bu?”, tanyaku.
=====“Kalau yang itu harganya lima puluh ribu.”
=====“Dua puluh lima ribu saja ya Bu!”
=====“Harga pasnya tiga puluh ribu Dik”
Aku pun setuju dengan harganya. Sudah pukul setengah tiga sore, aku pun langsung pulang. Kali ini aku tidak melaju seperti saat aku berangkat tadi karena harinya sudah tidak terlalu panas lagi.

***

=====Dalam perjalanan pulang aku melihat ada sajadahku di jemuran orang lain. Aku berhenti dan menghampiri si pemilik rumah.
=====“Assalamu’alaikum!” sapaku nyaring kepada si pemilik rumah.
=====“Wa’alaikumussalam!” sahut seorang perempuan tua dari dalam rumah
=====“Ada apa Nak? Kamu ingin beli minyak tanah milikku ya?”
Hatiku takjub melihat ada perempuan tua masih berusaha mencari nafkah tanpa meminta-minta. Tadi di pasar aku melihat seorang perempuan muda yang masih kuat, tetapi kerjanya hanya meminta-minta.
=====“Maaf Nek! Saya hanya ingin menanyakan apakah sajadah di jemuran itu milik Nenek?” tanyaku untuk membuka pembicaraan kami.
=====“Bukan, sajadah itu kutemukan di bebatuan sungai tempaku mengambil air wudu. Aku berencana akan meminta orang-orang masjid di dekat pasar untuk memberitahukan bahwa telah ditemukan sebuah sajadah tanpa pemilik. Aku tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan hakku.”
=====“Nek, sajadah itu semula milik saya. Tanpa sengaja saya telah menjatuhkannya di sungai dan terbawa arus hingga tersangkut di bebatuan tempat Nenek mengambil air wudu. Di bagian belakannya tertulis dua huruf Arab, yakni lam dan mim. Lam merupakan singkatan dari Lina dan mim singkatan Maisyarah. Namaku Lina Maisyarah Nek. Ini Kartu Tanda Penduduk saya, tertera nama dan foto saya di sini.”
=====“Kamu berkata jujur Nak. Ambillah sajadahmu kembali dan tunaikanlah salat tepat pada waktunya di atas sajadah itu!”
=====“Saya sudah mengikhlaskan sajadah itu kepada siapa pun yang menemukaannya. Jadi, sajadah itu sekarang milik Nenek.”
=====Kulihat wajah nenek itu menjadi ceria setelah mendengar kata-kataku. Baru kali ini aku membuat orang lain bahagia dengan memberikan barang yang aku sayangi. Sebelumnya aku hanya memberikan barang-barang yang tidak bernilai bagiku kepada orang lain.

***
CERPEN DUA BELAS MAHMUD JAUHARI ALI

Menanti Tamu Lebaran

Cerpen Mahmud Jauhari Ali


Coba kamu lihat kakekmu dari tadi duduk di ruang tamu! Ajaklah kakekmu Sayang makan kue bersama kita di sini!” perintah bu Hari kepada Erni dengan lembut.

“Baik Nek.”, Erni pun mengiyakan perintah neneknya itu.

Didekatinya seorang lelaki tua yang sedang memandangi pintu pagar rumah mereka.

“Kek! Ayo kita makan kue bersama dengan nenek!” pinta Erni kepada Kakek dengan ramah.

“Ayo! Siapa takut?” tantang kakeknya dengan bercanda dan mereka pun menuju ke arah bu Hari yang sedang makan kue buatan beliau sendiri.

“Sini Kek kita makan kue bersama!” kata bu Hari kepada suami tercintanya itu.

Kakek Erni itu pun makan bersama istri dan cucu beliau. Mereka terlihat sangat akrab di hari kemenangan yang suci tahun ini. Sesekali bu Hari membuat Erni tertawa karena cerita beliau yang lucu. Kakek Erni pun ikut tertawa kecil melihat cucu beliau yang bahagia mendengarkan cerita dari bibir istri beliau yang berparas cantik itu.

***

Kakek Erni biasa disapa dengan pak Bakran oleh masyarakat di sekitar rumah mereka. Nama lengkap beliau cukup panjang, yakni Muhammad Bakran Husaini Shaleh. Beliau dahulu menjabat sebagai camat dan kini beliau sudah pensiun. Sejak pulang dari masjid melaksanakan salat Idul Fitri dan bermaaf-maafan dengan jamaah lainnya di sana, beliau duduk sendiri di ruang tamu rumah beliau.

Ada apa dengan lebaran tahun ini? Lebaran yang sedang kuhadapi kali ini sungguh membuat hatiku sedih. Mereka belum juga ada yang menyambangi rumahku ini. Sudah terasa panas pantatku menunggu mereka.”, pak Bakran berkata dalam hati beliau dengan raut muka yang sedih.

Dahulu saat beliau masih menjabat sebagai camat, banyak bawahan beliau yang bertamu dan dan meminta maaf di ruang tamu rumah beliau. Seakan hanya bawahan beliau yang mempunyai kesalahan kepada beliau. Entah apa niat mereka itu sebenarnya juga tidak pernah dipikirkan oleh pak Bakran. Pemandangan ini sering terjadi di negara kita. Tidak sedikit bawahan dari pejabat di sebuah instansi yang mendatangi pejabat mereka saat hari lebaran. Namun, jarang sekali atau hampir tidak ada pejabat yang menyambangi rumah bawahannya saat hari kemenangan yang fitri itu tiba.

Beberapa tahun sebelumnya memang secara berturut-turut lebih kurang setengah jam setelah salat Idul Fitri sudah ada bawahan beliau yang datang di rumah beliau. Mereka biasaya datang dengan membawa bingkisan dengan beragam isi. Pak Bakran selalu menerima bingkisan mereka tanpa berprasangka buruk terhadap hal itu. Akan tetapi, hari ini berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya. Sudah dua jam beliau menanti kedatangan mantan bawahan-bawahan beliau, tetapi belum ada juga mereka datang menyambangi rumah beliau.

“Pak Udin, pak Dayat, bu Mira, ada di mana kalian saat ini? Aku mengharapkan kehadiran kalian di sini. Apa kalian sudah melupakanku? Aku memang sudah pensiun dan bukan siapa-siapa lagi bagi kalian…. Astagfirullah! Ya Allah ampuni aku yang sudah berprasangka buruk kepada meraka!” ucap pak Bakran dalam hati beliau yang sedang sedih dan kecewa.

“Kek, mengapa melamun?” tanya istri beliau. “Pada hari kemenangan yang bahagia ini sebaiknya kakek jangan melamun!” tambah istri beliau.

Belum lagi pak Bakran bicara, Erni bertanya,

“Kakek tadi melamunkan apa?”

“Ah kakek tidak melamun. Tadi kakek hanya berpikir, mengapa lebaran kali ini belum ada satu pun mantan anak buah kakek datang bertamu di rumah kita….”, jawab pak Bakran kepada istri dan cucu beliau.

“Mungkin mereka sedang sakit perut Kek.”, kata Erni sambil tertawa kecil.

“Kata Erni ada benarnya Kek. Mungkin di antara mereka ada yang sedang sakit. Sebagiannya lagi mungkin ada kesibukan lain.”, bu Hari mencoba menenangkan hati suaminya agar suami tercintanya terhindar dari prasangka buruk.

Pak Bakran sedikit tenang dan beliau pun melanjutkan makan kue bersama istri dan cucu beliau di ruang santai sambil menonton acara televisi.

***

Setelah waktu salat Juhur berlalu satu jam, pak Bakran kedatangan tamu dari tempat yang jauh. Pak Zaki sekeluarga sengaja datang dari tempat yang jauhnya 30 kilometer hanya untuk bermaaf-maafan dengan pak Bakran. Keduanya adalah kakak beradik. Pak Bakran merupakan kakak kandung pak Zaki.

“Assalamu’alaikum!” sapa pak Zaki saat berada di depan pintu rumah pak Bakran.

“Wa’alaikumussalam!” sahut pak Bakran dari dalam rumah. “Ayo semuanya masuk ke sini!” pinta pak Bakran.

“Sudah berapa tamu yang telah datang di rumah ini Kak?” tanya pak Zaki kepada kakak kandungnya.

“Kamu mungkin terkejut jika kuberi tahu jumlah tamu yang sudah datang di sini hari ini.” Kata pak Bakran. “Jumlah tamu lebaran hari ini jauh berbeda dengan jumlah tamu saat hari lebaran tahun-tahun sebelumnya”, tambah pak bakran.

“Tambah banyak ya Kek jumlah tamunya?” tanya cucu pak Zaki yang bernama Rumi.

Pak Bakran menghela nafas sejenak mendengar pertanyaan cucu saudaranya itu.

“Tidak bertambah banyak Sayang, tetapi baru kalian yang datang.”, ucap Pak Bakran dengan nada sedih.

“Sudah kuduga seperti itu. Dugaanku berdasarkan fakta yang sudah terjadi. Sudah menjadi kenyataan pejabat didatangi dan diberi bingkisan oleh para bawahannya saat ia masih memiliki jabatan itu. Akan tetapi, sebaliknya, ia tidak akan dikunjungi apalagi diberi bingkisan oleh seluruh mantan bawahannya saat ia sudah pensiun atau turun jabatan. Kalau pun ada, hanya satu atau dua orang yang masih mau melakukannya secara ikhlas. ”, pak Zaki mengungkapkan unek-uneknya kepada Pak Bakran.

“Sabar ya Kek!” kata bu Hari menenangkan hati suami beliau.

Pak Bakran pun bertambah kecewa dan sedih karena kata-kata adik beliau memang ada benarnya dan baru saja beliau alami keadaan seperti itu. Prasangka buruk beliau pun semakin menjadi kuat terhadap para mantan bawahan beliau.

***

“Inikah balasan dari orang-orang yang dulu pernah mendapatkan kebaikan dariku kepadaku ya Allah? Dahulu aku begitu dihormati dan disanjung oleh setiap bawahanku. Kini, mereka sudah menampakkan wajah asli mereka kepadaku. Biarlah, hari ini aku berprasangka buruk kepada mereka karena hatiku ingin berkata demikian. Aku sadar ini adalah hukumanku dari-Mu karena dahulu saat Kau angkat derajadku, aku malah tidak bersyukur kepada-Mu. Ampuni aku ya Allah karena dahulu aku tidak pernah bersyukur kepada-Mu atas nikmat berupa tamu yang melimpah di rumah pemberian-Mu ini!” ucap pak Bakran dalam doa beliau setelah salat Asar.

Setelah menunaikan salat Asar dan berdoa, beliau duduk sendiri di teras depan sambil memandangi barisan semut yang berduyun-duyun dengan teratur. Sambil duduk, beliau pun berkata dalam hati,

“Aku iri dengan semut-semut yang begitu akrab di hari yang suci ini. Aku manusia, tetapi tidak dapat seakrab itu dengan para mantan bawahanku di hari yang suci ini setelah aku pensiun…. Sungguh aku malu kepada diriku sendiri. Aku mantan pemimpin yang gagal. Pemimpin yang sukses selalu dikenang para bawahannya dan juga rakyat banyak seperti pahlawan kemerdekaan, bukan seperti diriku ini yang telah mereka lupakan.”

“Ah! Ada apa denganku? Seharusnya aku bersyukur sudah diberi Allah swt nikmat kehidupan yang masih kurasakan pada hari ini. Banyak kerabatku yang sudah tidak dapat menikmati indahnya lebaran seperti diriku. Walaupun bawahan-bawahanku tidak datang, aku masih memiliki para tetangga dan keluarga yang menyayangiku. Aku masih ingat begitu baiknya sikap mereka di masjid tadi kepadaku. Astaghfirullah! Astaghfirullah!”, ucap pak Bakran dalam hati.

“Kek! Memang terasa nyaman ternyata duduk di sini. Udaranya sejuk dan bersih dari polusi.”, ucap bu Hari sambil membawakan secangkir kopi hangat untuk pak Bakran.

Mereka terlibat dalam perbincangan yang hangat. Kadang-kadang mereka tertawa dengan hal yang mereka perbincangkan. Waktu pun tidak terasa berlalu oleh mereka hingga petang menjelang di hadapan mereka. Dengan segera mereka pun masuk ke rumah yang sudah lama mereka diami itu.

***

“Assalamu’alaikum! Assalamu’alaikum!” seorang lelaki muda mengucapkan salam dari luar halaman rumah pak Bakran keesokan harinya.

Wa’alaikumussalam! suara pak Bakran dari dalam rumah didengar pemuda itu.

“Selamat Idul Fitri dan mohon maaf lahir dan batin ya Pak!” seru pemuda itu.

“Ternyata kamu Din yang datang. Terima kasih banyak Din atas kedatangan dan ucapan selamat Idul Fitri darimu.”, kata pak Bakran dengan raut muka yang cerah kepada Syamsudin.

“Bagaimana kabar Bapak?”

“Kabar Bapak baik, tetapi saat ini Bapak masih bingung karena dari hari kemarin hanya kamu mantan bawahan Bapak yang datang di rumah ini. Untunglah saat ini ada kamu yang bertamu di rumah Bapak.”

“Benarkah Pak baru saya yang datang menyambangi rumah Bapak ini? Jujur saya kurang percaya dengan kata-kata Bapak tadi.”

“Ini adalah kenyataannya bahwa lebaran tahun ini sangat berbeda dengan lebaran tahun-tahun sebelumnya. Bapak hanya dapat memaklumi keadaan ini karena pensiunan seperti Bapak ini tidak pantas mengharapkan tamu yang banyak.”

“Saya ikut prihatin atas nasib yang sedang Bapak alami saat ini. Semoga kedatangan saya dapat menghibur hati Bapak.”

Pak Bakran memang sedikit terhibur dengan kedantangan Saymsudin di rumah Beliau. Mereka berbincang cukup lama. Sungguh, pak Bakran tidak menyangka kalau tahun ini keadaannya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Beliau hanya berusaha untuk memaklumi keadaan yang sedang beliau alami dan mencoba untuk tetap bahagia di hari yang fitri.

“Ya Allah kali ini aku bersyukur kepada-Mu karena telah Kauberikan tamu untukku. Jika Engkau masih mengizinkanku berharap sesuatu yang lain, aku hanya berharap para pejabat sekarang tidak mengalami nasib yang serupa denganku saat mereka telah pensiun nanti. Aku juga memohon kepada-Mu jadikanlah para pejabat di negara ini dapat menjadi pemimpin-pemimpin sukses yang dapat menyejahterakan bawahan-bawahan mereka dan terutama rakyat di negara ini. Dengan demikian, mereka tetap dikenang oleh para bawahan mereka saat menjalani masa pensiun, bahkan hingga berpulang kepada-Mu!” ucap pak Bakran sambil meneteskan air mata setelah selesai salat Juhur.

Pak Bakran pun bangkit dan berjalan menapaki kehidupan beliau dengan kesabaran dan rasa syukur kepada-Nya bersama para keluarga dan masyarakat di sekitar beliau.

***


CERPEN SEBELAS MAHMUD JAUHARI ALI





Kutemukan Dia

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

=====Aku terlahir dari orang yang tak kukenal. Jangankan nama ibuku, melihat sosoknya pun aku tidak pernah. Aku besar di panti asuhan Bumi Selaras yang didirikan oleh seorang yang baik hati. Atas bantuan beliau juga aku bisa menjadi seorang pengerajin batu permata yang cukup sukses di kotaku. Kini di usiaku yang kedua puluh delapan tahun, aku telah memiliki lima pekerja. Penghasilanku cukup untuk menghidupiku dan dua orang anak asuh di rumahku sendiri. Suatu ketika aku harus ke kota lain untuk urusan bisnis. Aku putuskan untuk naik bus ke kota tujuanku itu. Rencananya satu minggu aku berada di sana. Urusan pekerjaan kuserahkan kepada para pekerjaku yang sudah dapat kuandalkan. Kedua orang anak asuhku yang masing-masing berusia dua belas tahun dan empat belas tahun sudah mampu mengurus diri mereka dan rumah kami. Jadi aku tidak ragu meninggalkan mereka.

=====“Pak, hati-hati di jalan ya!” pesan anak asuhku yang pertama

=====“Insya Allah Bapak akan baik-baik saja.” Jawabku untuk membuatnya tidak cemas.

=====“Ini ada singkong goreng untuk bekal Bapak di jalan” kata anak asuhku yang kedua.

Mereka sangat perhatian kepadaku karena aku pun sangat memperhatikan mereka. Selama di perjalanan banyak kutemui pengemis, pengamen dan penjaja makanan dan minuman. Sesekali aku memberikan uang kepada para pengemis dan pengamen. Aku juga aku sesekali membeli minuman dari penjaja yang ada di dalam bus.

=====“Ternyata masih banyak rakyat yang miskin di negara kita.” Kata ibu tua yang duduk di sampingku.

=====“Ibu betul sekali. Di negara kita masih banyak orang yang miskin dan memerlukan bantuan kita yang mampu.” Balasku kepadanya.

Ibu itu menatapku dalam, seakan beliau ingin mengusap-ngusap rambutku. Mungkin ibu itu memiliki anak seusiaku dan mungkin pula beliau sedang ingat dengan anak belaiu tersebut.

“Aku tidak memiliki anak laki-laki” katanya. “Semua anakku perempuan dan seandainya aku punya anak laki-laki sepertimu, aku tentu akan sangat bahagia”, tambahnya.

“Semuanya sudah menikah Bu? ” tanyaku.

Ibu itu seketika tersenyum padaku. Sepertinya beliau tahu dari kata-kataku kalau sebenarnya aku ingin memiliki seorang istri. Sambil tertawa beliau berkata, “Semua anakku sudah memberiku cucu-cucu yang manis-manis.”

Aku ikut tersenyum sambil sedikit malu kepada ibu itu. Pembicaraan kami terhenti karena aku sudah sampai di kota tujuanku dan kami pun berpisah di sana. Sebelum kami berpisah beliau berpesan kepadaku, “Berhati-hatilah di terminal ini karena di sini banyak pencopet!”

Aku pun berterima kasih kepada beliau atas saran tersebut.

***

=====Kulangkahkan kakiku menuju keluar terminal mencari becak untuk menuju wisma tempat aku menginap satu minggu. Begitu banyak orang yang menawariku jasa transportasi, tetapi semuanya kutolak. Belum lagi aku keluar terminal, tasku sudah ada yang mencoba menyayatnya dengan pisau silet yang tajam. Kuhentikan segera aksinya dan aku kejar pencopet itu hingga aku berhasil menangkapnya. Tidak kusangka ternyata ia seorang perempuan muda. Usianya kira-kira dua puluh tahun.

=====“Lepaskan aku!”, katanya dengan ketakutan.

=====“Mengapa kamu menjadi pencopet?” tanyaku. “Apa kamu tidak takut jika polisi menangkap dan memenjarakanmu?” tanyaku lagi.

=====“Jika aku tidak mencopet Mas, aku tidak dapat makan hari ini.” jawabnya dengan nada memelas.

=====“Separah itukah perekonomianmu hingga kamu rela menjadi seorang pencopet?”, tanyaku padanya.

=====“Aku orang yang miskin dan tak punya pekerjaan tetap”, jawabnya. “Ibuku sedang sakit di rumah kami”, lanjutnya.

=====Aku tidak tega membawanya ke kantor polisi. Hati kecilku merasa iba dengan keadaannya. Aku ajak dia makan di warung dekat terminal itu. Saat itu perutku memang sangat lapar dan kulihat dia juga seperti orang yang kelaparan. Kami berbincang lama di sana. Aku memintanya menunjukkan keadaan ibunya kepadaku untuk membuktikan kebenaran kata-katanya tadi. Benar katanya, ibunya memang benar-benar sakit dan sedang terbaring di atas tikar beratap jembatan. Ya, tepatnya mereka tinggal di kolong jembatan. Hatiku merintih melihat keadaan mereka yang sangat memprihatinkan. Kuberi mereka uang seperlunya untuk berobat di rumah sakit. Aku pun segera meninggalkan mereka menuju wiswa tempatku akan menginap.

=====“Mas, tunggu sebentar!” pinta pencopet itu.

=====“Ada apa?”, tanyaku kepadanya.

=====“Siapa nama Mas dan di mana aku dapat menemui Mas kembali?”

=====“Namaku Rizal dan kamu dapat menemuiku kembali di Wisma Sejati”, kataku kepadanya. “Ingat pesanku tadi! Jangan mencopet lagi!”, tambahku.

***

=====Akhirnya sampai juga aku di wisma yang nyaman untuk kutinggali. Kurebahkan tubuhku di kasur empuk dan wangi. Segera terbayang olehku penderitaan anak dan ibu yang harus tinggal di kolong jembatan itu. Aku di sini rebahan dengan enak sedangkan masih ada orang yang tidur di tempat kumuh dan berbau tidak sedap. Aku bayangkan jika seandainya nasibku seperti mereka. Segera menitik air mataku dan ingin sekali aku membatu mereka. Aku ingat kembali aksi pencopetan yang dilakukan gadis itu kepadaku. Wajahnya masih mebekas di ingatanku. Malam pun semakin larut dan aku harus segera tidur agar besok aku dalam keadaan yang prima dan bisnisku dapat berjalan dengan lancar.

=====Suara alarm telepon selulerku membuatku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Aku pun segera berwudu karena azan Subuh telah menggema di angkasa. Untung di wisma itu tersedia musala yang bersih dan penuh perawatan. Kusempatkan jalan-jalan sebentar di sekitar wisma setelah salat Subuh berjamaah di musala itu.

Sudah dua hari aku berada di sana. Seperti biasanya, setiap pagi pintu kamarku diketuk pelayan wisma yang mengantariku makanan dan minuman. Dari dalam kusuruh dia masuk.

=====“Apa kabar Mas?” tanyanya

Aku lansung terkejut mendengar kata-katanya karena aku masih ingat betul suara itu. Benar dugaanku, ia saat ini tepat di hadapanku

=====“Kabarku baik. Bagaimana kabar ibumu Dik?” tanyaku balik.

=====“Ibuku masih hampir sembuh. Aku bawakan Mas makanan khas sini. Tolong Mas terima ya!” pintanya.

=====“Tidak usah repot-repot membawakan makanan ini untukku. Aku ikhlas kok membantumu dan ibumu tempo hari.”

***

=====Hari ini adalah hari terakhirku berada di kota penuh kenangan bagiku, terutama pada gadis muda yang mebuat hatiku terasa lain daripada sebelum bertemu dengannya. Pekerjaanku telah selesai dan saatnya aku kembali ke kotaku. Sebelum berangkat, aku sempatkan diriku menjenguk ibu gadis itu.

=====“Mungkinkah kita akan bertemu lagi?” tanya gadis itu kepadaku.

=====“Jika Allah menghendakinya, kita akan bertemu kembali Dik” jawabku.

=====“Kami akan mengingat kenangan hidup ini”, kata ibunya kepadaku.

Kulihat mereka sangat akrab di sana. Aku berpamitan dengan mereka. Baru kali ini aku sangat iri dengan orang lain. Aku sangat iri dengan gadis itu yang memiliki seorang ibu di sisinya dan menyayanginya. Tidak pernah seumur hidupku aku merasakan kasih sayang seorang ibu. Kutatap sejenak wajah mereka dan aku pun segera meniggalkan mereka di sana. Sesampainya di rumah aku di sambut dengan hanyat oleh kedua anak angkatku. Aku banyak bercerita kepada mereka selama aku di kota lain.

Aku merasakan hal yang tidak pernah kurasakan selama ini, yakni rasa sepi di hatiku. Gadis di kota lain itu selalu ada dalam pirkiranku dan semakin pula membuat hatiku ingin bersamanya. Mungkin naluriku sebagai pria dewasa yang membuatku seperti itu. Kurasakan ada sesuatu yang berbeda dalam hatiku terhadap gadis itu. Entah apakah aku telah jatuh hati kepadanya. Akan tetapi, satu hal yang jelas bahwa aku bahagia saat bertemu kedua kalinya dengannya. Gadis itu membuatku tidak dapat konsentrasi terhadap pekerjaanku. Dengan perasaan yang tak menentu aku kembali ke kota itu. Kutemui dia dan ibunya. Aku tatap dalam matanya dan kuberanikan hatiku untuk mengatakan bahwa aku berniat menikahinya. Kulihat ia sangat gugup saat itu. Mulutnya tidak mampu bicara, tetapi ia menganggukkan kepalanya kepadaku. Anggukannya membuat hatiku sangat bahagia. Tiga hari kemudian kami menikah dan kubawa ia dan ibu mertuaku di rumahku bersama kedua anak angkatku.

***


CERPEN SEPULUH MAHMUD JAUHARI ALI



Demi Pernikahan Adik

Cerpen Mahmud Jauhari Ali


=====Aku masih teringat dengan kata-kata pak Hamid soal pernikahan adikku. Lelaki berusia setengah abad itu dengan teganya menolak adikku menjadi menantunya hanya karena uang seserahan yang belum dapat kami berikan sesuai permintaannya. Adikku sebenarnya sudah ingin sekali memiliki seorang wanita yang menemaninya dengan setia. Sudah dua tahun adikku berhubungan dengan Mia, anak pak Hamid. Aku sebagai kakaknya tidak ingin keduanya terjerumus ke jurang maksiat. Ketakutanku muncul saat aku melihat mereka bergandengan tangan di samping musala sehabis salat Tarawih satu bulan yang lalu. Hatiku sakit melihat adikku yang kini tidak semangat menjalani hidup gara-gara penolakan pak Hamid tempo hari.
=====Kadang kulihat dia termenung sendiri di serambi rumah kami. Aku tahu bagaimana perasaannya. Dengan permintaan pak Hamid sebesar lima belas juta rupiah, kemungkinannya baru satu tahun lagi adikku dapat menikah. Dia memang sudah bekerja sebagai penjahit, tetapi berapalah pendapatan seorang penjahit yang baru membuka usahanya.
===== “Assalamualaikum.... ”, sapa ustadz Karim dengan suara yang lembut kepadaku
===== “Wa’alaikumussalam”, jawabku.
===== “Bapak sedang ada masalah ya? tanya beliau
=====“Ah Ustad tahu saja kalau saya sedang punya masalah”
===== “Ya, soalnya Bapak kalau setiap kali ada masalah, Bapak sering duduk tafakur di musala ini”
===== “Benar Ustad saya sedang ada masalah. Saya belum memiliki uang untuk membatu adik saya menikah”
=====“Memangnya sudah berapa tabungan Bapak dan adik Bapak itu?
=====“Baru sembilan juta Ustad.”
=====“Cukup sudah uang itu sebenarnya untuk menikah. Bukankah rasulullah sendiri mengadakan pesta pernikahan dengan sederhana? Bahkan rasulullah menyuruh umatnya agar menikah walaupun dengan mas kawin berupa cincin dari besi.”
=====“Kami pun sebenarnya ingin seperti itu, tetapi pihak mempelai wanitanya meminta uang seserahan sebesar lima belas juta”
=====“Masya Allah! Besar sekali?”
Azan Juhur pun berkumandang menghentikan percakapan kami. Kami segera berwudu dan setelahnya kami pun salat berjamaah. Ustad Karim menjadi imamnya. Aku dan tiga orang lainnya mengikuti gerakan beliau dari belakang.
=====Aku segera meninggalkan musala setelah memanjatkan doa kepada Allah agar dimudahkan-Nya menyelesaikan masalah yang sedang kami hadapi.


***


=====Kulihat istriku sedang asyik memberikan makan ayam-ayam kami. Kulihat ia juga ikut memikirkan masalah pernikahan adik kandungku itu.
=====“Assalamu’alaikum...!” sapaku pada istri tercintaku
===== “Wa’alaikumussalam” jawabnya dengan dengan sangat lembut .
=====“Dari mana Yah hari Minggu baru pulang?” tanyanya.
=====“Aku habis dari musala. Pak ustad tadi mengajakku berbincang.”
=====“Soal apa?”
=====“Soal adik kita.” jawabku. “Pak ustad juga menyayangkan pihak mempelai wanita yang meminta uang seserahan dengan jumlah banyak”, tambahku.
=====“Apa nasehat pak ustad kepada Ayah?
=====“Aku diminta beliau membicarakan sekali lagi kepada pak Hamid soal uang seserahan itu karena dalam Islam tidak ada hukumnya meminta uang seserahan kepada pihak mempelai pria, apalagi dengan jumlah yang banyak.” “Beliau juga menambahkan bahwa dalam Islam hanya ada pemberian mahar yang tidak ada ketentuan jumlah dan ukurannya dari mempelai pria kepada mempelai wanita.”
=====Istriku pun mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar kata-kataku itu. Pembicaaan kami terhenti saat adikku Fajriansyah datang dari tempat kerjanya. Kami lihat wajahnya sangat lelah. Ia tersenyum ke arah kami.
=====“Assalamu’alaikum....” sapanya.
=====“Wa’alaikumussalam ...”, jawab kami.
=====“Karena sudah berkumpul, ayo kita makan bersama! Pinta istriku kepadaku dan Fajriasnyah.
Dengan lahapnya kami menyatap makanan di meja makan. Perut kami langsung kenyang dan mata kami pun mulai mengantuk.

***


=====Tidak terasa sudah pukul setengah empat sore. Aku beranjak dari tempat tidurku untuk bersiap-siap salat Asar di Musala. Dalam pikiranku masih saja melekat masalah pernikahan adikku. Kuputuskan setelah salat aku akan menemui kembali pak Hamid. Dengan sepeda motor aku melaju ke rumah tempat tinggal gadis pujaan adikku. Di sana kami berbicara cukup lama dan sangat alot karena pak hamid tetap pada pendiriannya. Aku pulang dengan tangan kosong karena aku tidak berhasil meyakinkan pak Hamid soal pernikahan yang Islami.
=====Dalam perjalanan pulang aku mampir di pasar. Aku tadi dipesani istriku untuk membeli gula merah dan kacang hijau. Katanya dia ingin memasak bubur kacang hijau. Saat aku membeli gula merah dan kacang hijau, aku mendengar percakapan para penjual di pasar itu.
=====“Bi, kemarin habis berapa untuk biaya berobat di rumah sakit?”
=====“Kalau ditanya habis berapa, habis-habisan Dik”
=====“Memang Bi, sekarang tidak ada yang murah.”
=====“Kami kemarin habis delapan juta untuk biaya operasi usus buntu anak kami.”
Akibat percakapan para penjual di pasar tadi, aku jadi berpikir kalau aku harus segera membiayai adikku untuk menikah. Jika harus menunggu satu tahun lagi, aku takut adikku menjadi stres berat. Biarlah habis biaya banyak dengan resiko jual sana, jual sini. Mengharapkan kesadaran pak hamid terlalu lama. Pak Hamid juga berpikiran sekarang tidak ada yang murah, apalagi soal anak gadis tentulah mahal. Pemikiran yang salah masih melekat dalam pikiran masyarakat kita saat ini soal pernikahan, pikirku.


***

=====Dengan hati yang ikhlas, aku dan istriku memutuskan menjual sepeda motor kami dan beberapa barang lainnya termasuk perhiasan istriku untuk biaya adik kami. Semula adikku menolak keputusan kami, tetapi akhirnya dia pun menuruti permintaan kami. Kami tidak bisa mengubah adat perkawinan yang sudah lama mengakar di daerah kami soal uang seserahan dalam pesta perkawinan. Kami akui, masih banyak orang di daerah kami yang belum paham betul dengan tata cara pernihakan yang Islami, salah satunya adalah pak Hamid. Pernikahan pun berlangsung dengan meriah. Aku dan istriku sangat bahagia dengan pernikahan itu. Kebahagian kami bukan datang dari meriahnya pesta, melainkan datang dari kebahagian yang sedang dirasakan oleh adik kami tercinta yang terlihat dari senyum dan tawanya.


***

Minggu, 13 Juli 2008

CERPEN SEMBILAN MAHMUD JAUHARI ALI

Mata Pisau

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Aku sedang asyik dengan buah-buah segar yang kubawa dari rumahku. Buah-buah yang membuat hati orang ingin menyantapnya sampai habis. Saat itu matahari sedang memancarkan cahayanya tepat di atas diriku. Untung aku masih memakai topi sehingga kepalaku tidak ikut panas seperti aspal jalan yang langsung menerima sinar sang surya. Panasnya hari membuat orang-orang mendatangiku untuk mencari kesegaran buah-buah daganganku. Ada lima piring kecil di hadapanku. Segera kuisi kelimanya dengan buah-buah segar yang kuiris-iris halus. Ketajaman mata pisauku mempercepat penuhnya piring-piring kecil tempat para pelangganku menyantap kesegaran. Mereka pun dengan lahap menyantap irisan-irisan buah segar. Buah-buah yang mereka makan berasal dari kebun kesayanganku. Kedua anakku—Budi dan Yoga—sudah remaja. Mereka berdua dan istriku membantuku merawat kebun yang sudah lama menemani kami sekeluarga.
Setiap hari aku berdekatan dengan beragam buah. Kedua tanganku telah sangat akrab dengan kuning, putih, jingga, dan merahnya buah. Dengan tiga roda aku kayuh terus gerobak kecil berisi buah-buahku keliling kota yang kini udaranya mulai tak ramah lagi. Sudah enam belas tahun aku berkutat pada buah dan pisau. Semua jalan di kotaku telah kutelusuri. Mulai dari jalan yang baik hingga jalan rusak yang belum diperbaiki oleh pihak yang bertanggung jawab. Berbagai karakter manusia pun sudah kutemui. Ada yang pemarah, santun, dan sebagainya. Wajah-wajah cantik, tampan, dan lumayan, kerab singgah di hadapanku. Orang-orang itulah yang menikmati segarnya irisan buah-buah dari kebunku. Kadang kunikmati juga buah kesenanganku—nenas—di sela-sela kesibukanku. Teriknya sinar matahari dan guyuran air hujan kadang menemaniku dalam mengayuh roda sumber penghidupanku yang diberikan-Nya kepadaku. Aku pun menerimnya dengan lapang dada.
Siang itu tidak seperti biasanya. Tepat di hadapanku terlihat seorang pemuda roboh terkena beberapa mata pisau di tubuhnya. Seragam satpamnya yang putih ternodai dengan darahnya sendiri yang masih segar sewarna dengan kulit buah jambuku. Ia mencoba menangkap dua orang perampok sadis yang menyatroni toko emas milik pengusaha Cina. Perampoknya lari dengan cepat. Entah apakah ia lari karena melihat banyak orang berdatangan ataukah karena mereka sedang terburu-buru hendak menjual barang hasil rampasan mereka ke penadah. Segera kutolong pemuda itu setelah kutinggalkan buah daganganku di pinggir jalan. Orang-orang pun berkerumunan menyaksikan akibat aksi sadis dari para perampok. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan bagi si satpam malang. Resiko petugas keamanan memanglah berat, bahkan bisa-bisa nyawa taruhannya. Kulihat wajahnya yang menandakan rasa sakit yang luar biasa sedang dirasakannya saat itu. Ia memintaku untuk tidak meninggalkannya karena ia tidak punya keluarga. Dengan singkat ia katakan kepadaku bahwa ia dibesarkan di panti asuhan dan kini ia sebatang kara tanpa keluarga. Aku turuti permintaannya. Empat orang yang juga ikut ke rumah sakit memiliki alasan yang tak dapat kusanggah untuk meninggalkan pemuda itu.

***

Kini aku duduk sendiri menunggu proses operasinya selesai dijalankan tim dokter ahli. Masih terbayang olehku wajah salah seorang perampok itu. Sekilas wajahnya mirip dengan temanku yang sudah lama tidak berjumpa denganku, Mansyah. Akan tetapi, salah seorang perampok tadi bukanlah temanku karena temanku tentulah tidak semuda itu lagi. Mansyah adalah temanku saat aku masih sangat muda dulu. Masa itu sudah lewat tujuh belas tahun yang silam. Aku masih ingat, kami sering bersama menghabiskan masa muda dengan hura-hura. Uang dengan mudah kami dapatkan tanpa harus bekerja keras. Sering kami habiskan puluhan ribu rupiah hanya untuk satu malam di meja judi. Botol-botol minuman keras selalu ada di sisi kami kala siang hari menyapa mata kami yang masih merah. Pisau selalu ada di selipan celana kami. Merampas dan melukai orang bukanlah perkara serius bagi kami kala itu. Pernah aku masuk rumah sakit karena perutku robek terkena sabetan pedang perampok lain dalam perebutan wilayah kekuasaan. Mata pisauku tidak dapat mengalahkan tajamnya pedang musuh. Saat itu aku sadar bahwa aku sebenarnya tak sekuat dugaanku. Sejak itu kuputuskan untuk tidak lagi terjun di dunia hitam penuh dosa. Temanku—mansyah—bersikeras meneruskan kejahatan saat aku mengajaknya keluar dari lingkaran nafsu dan antikasih sayang terhadap sesama.
Kutarik nafasku dalam-dalam dan kusadarkan diriku bahwa itu hanyalah perkara masa silam yang harus kulupakan. Mansyah kini masih dipenjara karena kesalahannya membunuh seorang pengusaha kayu. Aku kadang-kadang menjenguknya di sana. Rasa penyesalan yang dalam terlihat di raut wajahnya. Sebenarnya aku tidak ingin lagi mengingat perbuatan tidak terpuji kami itu, tetapi kejadian siang tadi telah memaksa kenangan itu kembali muncul dalam otakku. Aku selalu sedih dan merasa bersalah dengan penuh penyesalan atas perbuatan bejatku pada masa silam. Aku hembuskan nafasku dan kugeleng-gelengkan kepalaku menyesali diriku yang teramat kejam merampas harta orang-orang dan menumpahkan darah mereka pada masa yang telah lewat.
Saat ini aku telah insyaf atas kekejianku itu. Mata pisau tidak lagi kugunakan untuk melukai atau menyakiti orang lain, tetapi kugunakan untuk menyenangkan orang lain. Kini mata pisau buatku adalah teman dalam hidup yang baik. Buah-buah daganganku dengan mudah kuiris dengan mata pisau dan orang-orang pun menikmati irisan buah-buah yang segar. Aku baru ingat, buah-buahku masih di pinggir jalan. Entah bagaimana nasib buah-buah di gerobakku saat ini.
Pintu ruang operasi pun dibuka dan pemuda itu selamat. Kutemui ia terbaring di kasur sebuah ruangan kelas ekonomi dengan senyumnya yang manis kepadaku. Kuhampiri dia dan kukatakan padanya bahwa dia harus sabar menerima cobaan yang sedang dialaminya. Dengan mengangguk-anggukkan kepalanya ia setuju dengan kata-kataku. Ditunjukkannya perban pembungkus luka-lukanya kepadaku. Cukup bagi kami bercakap di sana. Wartawan pun berdatangan dan aku segera menyingkir dari mereka. Kuhormati profesi mereka, tetapi saat itu aku sedang tidak ingin diwawancari mereka sebagai saksi mata. Kutinggalkan pemuda itu dengan rasa puas telah membantunya.

***

Suara pintu rumahku diketuk orang pada siang hari. Anakku yang membukakannya. Kulihat wajah yang tak asing lagi di mataku. Heru—pemuda yang selamat dari aksi sadis perampokan satu setengah bulan yang lalu—sudah ada di hadapanku dengan tubuh kekarnya. Ternyata ia benar-benar ingin mengunjungiku. Keinginannya untuk mengunjungiku sudah ia ucapkan saat ia masih dirawat di rumah sakit. “Masuklah dan anggap saja ini rumahmu sendiri!” kataku padanya dengan ramah. Ia pun segera masuk dan menjabat tanganku. Ia terlihat sehat saat itu. Ia tunjukkan bekas-bekas lukanya yang belum kering benar kepadaku. Kukenalkan ia dengan kedua anakku dan istriku. Kutinggalkan sebentar ia di ruang tamu. Dari ruang dapur kudengar suara mereka sedang asyik bercakap-cakap. Kuiriskan buah-buah segar untuknya. Kami pun makan buah bersama dengan nuansa yang sangat akrab. Dia pun pulang dengan sekantong buah-buah segar dari kebun kesayanganku.
Malam pun tiba, kini saatnya kurebahkan tubuhku setelah seharian lebih aku beraktivitas. Sulit sekali aku tidur malam itu. Aku teringat dengan temanku yang masih berada di dalam teralis penjara yang dingin. Kenangan-kenangan kami muncul di otakku. Kuniatkan dalam hatiku untuk membesuknya besok di sana.
Pagi pun tiba dengan sahut-sahutan ayam jantan yang merdu di pendengaranku. Kusiapkan segalanya sebelum kukayuh roda penghidupanku di jalanan yang telah berulang kali kulalui. Hari itu awan hitam sedikit tebal sehingga sinar matahari tidak terlalu menyengat ragaku yang kini semakin menua. Angin bertiup agak kencang menyapu awan-awan hitam itu. Dugaanku hari akan hujan tenyata meleset. Hari itu menjadi lebih terang daripada sebelumnya. Daganganku sudah hampir setengah habis kujual. Kulangkahkan kakiku ke sebuah bangunan tua tempat temanku meringkuk di dalamnya. Sudah sepuluh tahun lebih ia berada di sana atas kesalahannya. Hari ini aku bertatap muka lagi dengannya. Kerutan di wajahnya semakin jelas terlihat olehku. Rambut-rambut putih pun sudah banyak tumbuh di kulit kepalanya. Kutatap matanya dalam-dalam dan kusimpulkan ia sekarang sedang bahagia bertemu denganku. Senyum dengan segera ia torehkan di bibirnya untukku. Sempat ia bertanya kabar mantan istrinya, Fatmawati. Dengan berat hati kukatakan kepadanya bahwa mantan istrinya itu telah meninggal dunia tujuh bulan yang lalu. Kukira ia sudah melupakan mantan istrinya itu. Ternyata masih tersisa serpihan cinta di hatinya. Matanya berair menandakan kesedihan atas kepergian mantan istrinya untuk selama-lamanya.
Segera kualihkan pembicaraan agar ia tidak larut dalam kesedihan. Kukatakan padanya bahwa Budi berhasil lulus dalam tes masuk perguruan tinggi negeri. Budi anakku itu sudah dianggapnya sebagai anaknya juga. Cukup lama kami berbincang-bincang hingga petugas di sana memberitahukan kepadaku bahwa waktu membesuk sudah habis. Kini saatnya aku mengucapkan salam untuk temanku yang sudah kuanggap saudara itu. Kami pun berpisah. Ia kembali ke kurungannya dan aku kembali mengayuh roda penghidupanku. Tinggal tiga tahun lagi ia berada di sana. Aku berharap setelah ia keluar nanti, ia menepati janjinya kepadaku. Ia berjanji tidak lagi berbuat jahat kepada orang lain.
Aku pandangi ruang-ruang rumahku yang sudah lama tidak aku cat kembali. Walaupun rumahku tidak tergolong mewah, aku sangat bersyukur kepada-Nya sudah mendapat tempat hunian yang nyaman bersama keluarga yang menerima dan mencintaiku apa adanya. Kuteruskan hidupku sebagai penjual buah keliling yang menjadikan mata pisau untuk menyenangkan orang lain. Tubuhku sudah tidak sekuat dulu lagi. Tugasku kini adalah mendukung kedua anakku menjadi orang-orang yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara. Bersama istriku, aku ingin melihat kedua anakku sukses meraih kehidupan mereka yang bahagia bersama isrti dan anak-anak mereka kelak. Semoga harapanku itu dapat kuraih.

***

CERPEN DELAPAN MAHMUD JAUHARI ALI

Perempuan Ulet

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Hari masih gelap. Udara masih sangat dingin dan sang bulan tetap memantulkan cahaya surya. Suara katak bersahut-sahutan dengan riangnya. Nyanyian ayam ikut memecah kesunyian pagi buta. Di sebuah rumah tercium bau asap tanda adanya api yang sedang menyala. Akan tetapi, bukan asap kabakaran dari kelalaian manusia. Terlihat seorang perempuan mengaduk-aduk nasi yang balum tanak. Perempuan itu memasak nasi saat hari masih gelap. Lauk-pauk berupa ikan, telur, dan daging ayam pun ia masak dengan hati-hati. Setelah puas dengan nasi dan lauk-pauk buatannya, perempuan itu kembali mengaduk tepung terigu, telur, gula, pisang, dan air bersih. Setiap hari perempuan itu melakukan rutinitas tersebut. Orang-orang memanggilnya bibi Mursitah. Saat bibi Mursitah sedang asyik meletakkan hasil masakannya di tempat khusus, ada lelaki yang mandatanginya. Lelaki itu membantunya di dapur.
“Sermi dan Ipin masih tidur ya Bang?” tanyanya kepada lelaki itu.
“Ya, mereka masih tidur.”, jawab lelaki yang membantunya memasak.
Mereka meneruskan kegiatan yang hampir selesai mereka kerjakan. Aroma masakan hampir terciuma di setiap ruangan rumah itu. Api pun mereka matikan dari kompor yang masih panas.
Tidak lama kemudian anak-anak mereka bangun dari tempat tidur yang nyaman. Mereka pun salat Subuh berjamah di rumah karena tempat ibadah sangat jauh jaraknya dari rumah mereka. Seperti biasanya, sang ayah bertindak sebagai imam dan yang lainnya mengikutinya di belakang. Selesai mereka salat Subuh dengan tertib, mereka tidak tidur kembali. Mata mereka tetap terbuka walau udara pagi masih terasa dingin menyengat kulit mereka. Terdengar suara piring yang sedang disusun. Suara kursi yang sedang diletakkan di lantai dari atas meja juga terdengar menandakan mereka sedang bersiap-siap menjual masakan yang sudah siap saji. Lebih kurang pukul enam pagi mereka mulai berjualan. Dari pertama buka pada tujuh tahun silam, sudah cukup banyak orang yang membeli makanan bibi Mursitah. Saat ini pembelinya sudah banyak. Selain rasanya yang enak, harga-harganya pun tergolong murah. Orang-orang menyebut warung tersebut dengan nama warung bibi Mursitah, pasalnya yang paling sering melayanai pembeli adalah bibi Mursitah. Suaminya hanya sebentar melayani pembeli karena suaminya juga bekerja sebagai sopir angkot.
“Bu! Pak! Kami berangkat dulu ke sekolah.”, kata Sermi.
Sermi dan Ipin pun lalu mencium tangan kanan ibu dan bapak mereka. Kedua suami istri itu ingin sekali masa depan kedua anak mereka lebih cerah daripada mereka. Sermi bercita-cita menjadi guru yang dapat mencerdaskan bangsanya, sedangkan Ipin ingin menjadi pengusaha yang dapat menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Saat ini kedua anak bibi Mussitah masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Sang kakak—Sermi—sudah duduk di kelas tiga dan adiknya kelas dua.
Bibi Mursitah terlihat sangat sibuk melayani para pembeli di warung sederhananya. Banyak orang yang singgah dan makan di warungnya. Dapat dikatakan warungnya laris manis setiap hari. Setiap pagi anak-anak sekolah yang melalui warung itu sering membeli kue pisang buatan bibi Mursitah. Paman becak dan tukng ojek sering makan nasi di sana. Salah satu orang yang paling sering membeli makanan bibi Mursith adalah Saiful. Ia belum beristri. Sudah dua tahun ia tinggal di rumah sewaan dekat rumah bibi Mursitah. Orangnya terbiasa tidak suka masak sendiri. Warung bibi Mursitah bagai rumah keduanya. Sebenarnya bukan hanya warung itu yang ada di sana, ada tiga warung lainnya. Akan tetapi, warung bibi Mursitah terkenal dengan masakannya yang lezat dan harganya yang murah.
“Bi! Kue pisang ini nanti jangan dibuat lebih kecil ya seiring naiknya harga minyak!” pinta salah seorang anak sekolah yang sering membeli kue pisang di warung itu.
Bibi Mursitah pun harus mencari cara untuk tidak menggunakan minyak tanah sebagai pilihan lain untuk memasak. Kenaikan minyak tanah sangat dirasa berat oleh bibi Mursitah. Di satu sisi ia tidak ingin menaikan harga jualannya, tetapi di sisi lain harga minyak tanah melambung tinggi.

***

Hari ke hari warung bibi Mursitah tetap buka dengan rasa masakan yang lezat dan harga yang masih sama. Orang-Orang tidak bosan-bosannya membeli di sana. Bibi Mursitah mencoba tidak menggunakan bahan bakar minyak tanah. Awalnya bibi Mursitah menggunakan kayu bakar sebagai pilihan lain untuk memasak. Akan tetapi, asap dari pembakaran kayu menyebabkan pembeli selalu mengeluh. Bibi Mursitah pun mencari pilihan lainnya. Dari hasil coba-coba, bibi Mursitah pun mecoba bahan bakar dari serbuk kayu yang dimasukkan di sebuah wadah berbentuk tabung seukuran kompor. Tabung ini terbuat dari semen. Selain lebih hemat, asap yang dihasilkannya pun tidak sebanyak akibat pembakaran kayu belahan. Dengan kompor ini, bibi Mursitah dapat menjual dagangannya dengan harga yang murah. Walaupun pemerintah menyerukan tabung gas elpiji lebih murah daripada miyak tanah, bibi Mursitah tidak menghiraukannya karena bahan bakar yang selama ini digunakannya lebih murah daripada yang ditawarkan pemerintah. Bibi Mursitah juga membuat minyak goreng sendiri dari buah kelapa yang ada di belakang rumahnya. Dengan demikian harga makanan dan minuman di warung bibi Mursitah lebih murah daripada harga di warung lainnya.

***

Beberapa bulan kemudian warung bibi Mursitah terlihat sunyi. Warung itu tidak seperti dulu lagi. Tidak ada lagi suara obrolan para pembeli seperti dulu. Anak-anak sekolah juga tidak ada lagi yang singgah untuk membeli kue pisang bibi Mursitah. Bahkan, suara penggorengan pun tidak terdengar lagi di sana saat ini. Suasananya benar-benar lain daripada dulu. Kesunyian itu tidak disebabkan oleh harga makanan dan minuman yang mahal di warung itu. Dua bulan sebelumnnya ada yang lain di lingkungan tempat tinggal bibi Mursitah dan sekitarnya. Kira-kira jam sepuluh malam, ada suara yang asing dipendengaran warga setempat. Suara itu mirip gemuruh suara pasawat terbang. Setelah suara itu mendekat, ada suara lain yang datang. Suara yang lain itu adalah suara atap seng seperti dibanting berulang-ulang. Diikuti pula dengan suara kayu papan yang seperti dicongkel dan dihempaskan di tumpukan kayu lainnya. Warga pun mulai berlarian seperti semut-semut yang sarangnya dirusak. Takut bercampur sedih menyelimuti jiwa mereka. Mereka tidak menyangka keadaannya akan seperti itu. Hasilnya, warung bibi Mursitah menjadi salah satu bukti adanya angin puting beliung di sana.
Kini warung bibi Mursitah tinggal puing-puing yang tidak beraturan. Bibi Mursitah sekeluarga belum mampu membangun kembali warung mereka yang kini tela hancur diterpa angin dahsyat. Pasalnya, sebagian besar rumah mereka pun ikut hancur terkena terpaan angin yang sama. Banyak orang dari luar kampung itu yang memberi bantuan kepada para korban angin tersebut termasuk kepada keluarga bibi Mursitah.
“Bagamana Bang soal warung kita itu?” tanya bibi Mursitah.
“Insya Allah kita olah kembali kalau rumah kita sudah kita perbaiki”, jawab suaminya.
Mereka bergotong-royong memperbaiki rumah-rumah yang rusak. Banyak rumah yang mengalami kerusakan berat di kampung itu. Musibah memang tidak dapat kita hindari. Akhirnya selesai juga mereka memperbaiki rumah-rumah yang rusak.
“Assalamu’alaikum! Ada orang di rumah?” terlihat seorang lelaki berbaju kotor di luar rumah bibi Mursitah.
“Wa’alikumussalam.”, suara bibi Mursitah membalas kata-kata orang itu dari dalam rumah.
“Kayu-kayu dan beberapa lembar seng di muka rumah bibi bisakah saya ambil?” tanya lelaki di luar rumah itu.
“Maaf ya Pak! Kayu dan seng di muka rumah saya masih kami pakai untuk membangun kembali warung kami yang rusak itu.”, bibi Musitah manjawab dengan ramah.
“Masih terpakai rupanya. Tidak apa-apa Bi.”, kata lelaki itu sekenanya.
“Pak, ini ada beberapa botol tidak terpakai”, bibi Mursitah menawarkannya kepada lelaki itu.
“Terima kasih banyak Bi atas botol-botol ini.” lelaki pemulung itu pun gembira hatinya mendapatkan beberapa botol dari bibi Mursitah.
Esok harinya terdangar suara paku yang sedang dipukul di warung bibi Mursitah yang sudah menjadi puing-puing. Suara kayu yang sedang dipotong dengan gergaji juga terdengar di sana. Bibi Mursitah sekeluarga sedang membangun kembali warung mereka. Bahannya banyak diambil dari kayu-kayu dan seng yang dulu untuk menghemat biaya pembangunannya.
“Alhamdulillah, selesai juga warungnya dibangun kembali.”, bibi Mursitah mengucapkan rasa syukurnya.

***

“Saat hari masih gelap. Tatkala banyak orang masih tidur dengan lelap. Kala suara ayam-ayam jantan memecah kesunyian. Di rumah bibi Mursitah tercium kembali bau asap yang lama tidak mengepul di sana. Bibi Mursitah ditemani suami tercintanya mengaduk-aduk nasi yang belum tanak. Mereka kembali menyiapkan masakan untuk mereka jual saat terang datang menyapa. Kue pisang pun mereka olah kembali. Warung bibi Mursitah yang kemarin baru selelsai dibangun, hari ini sudah kembali ramai dikunjungi para pembeli. Anak-anak sekolah kembali singgah dan membeli kue pisang buatan bibi Mursitah. Para tukang ojek dan yang lainya kembali membeli masakan di warung itu seperti dulu. Obrolan pun terdengar kembali di wrung yang tadinya rata dengan tanah itu.
Dengan harga yang lebih murah dan rasa yang lebih lezat daripada di warung-warung lainnya, para pembeli tetap setia mengeluarkan uang mereka untuk mendapat makanan di warung bibi Mursitah. Bibi Mursitah termasuk orang yang gigih dalam bekerja. Ia juga tergolong orang yang kreatif dalam menjalani hidup. Di saat orang-orang demo mulut dan antri minyak tanah, bibi Mursitah dengan santainya menggunakan bahan bakar lain yang lebih murah untuk memasak.
“Sekarang kita memang sudah saatnya berdemo dengan perbuatan nyata. Berdemo mulut kurang mendukung kehidupan kita karena pemerintah tidak akan mau menerimanya. Kini kita memang harus lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi keadaan yang semakin memburuk di negara kita sendiri.”, kata bibi Mursitah kepada anak-anaknya.

***

Sabtu, 05 Juli 2008

CERPEN TUJUH MAHMUD JAUHARI ALI

Usia

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Sinar matahari mulai muncul di ufuk timur. Sinarnya menerangi hamparan bumi yang semula gelap. Suara ayam-ayam jantan masih terdengar bersahutan-sahutan membangunkan insan yang masih tertidur lelap karena bergadang tadi malam. Kartu-kartu remi terlihat berserakan di pojok sebuah rumah. Udara pagi yang dingin masih menyelimuti sebuah kampung di pinggir sungai Barito. Walau dengan mata yang masih merah, pak Amir sudah sibuk mengangkat dan menata rapi beberapa kotak persegi panjang berwarna hitam. Kotak –kotak itu berfungsi sebagai pengeras suara yang disewa pak Amir dua hari yang lalu. Sementara istri tercintanya sedang sibuk melipati tisu-tisu makan berwarna merah muda. Sudah lama pak Amir memimpikan indahnya janur kuning melambai di depan rumahnya. Kini impian itu bukan lagi sebuah angan semu di benaknya, melainkan sebuah kenyataan yang tak terbantahkan. Hari semakin terang dan dedaunan pun mulai berfoto sintesis menghasilkan klorofil sebelum tengah hari datang menyapa mereka. Erna mulai bersiap-siap tampil dengan penuh pesona yang menawan hati para tamu undangan. Sementara itu terlihat Siti dengan jari-jemarinya yang lihai sedang mendandani rambut Erna.
Tamu yang pertama datang adalah pak Jamal. Hampir setiap ada pesta perkawinan, pak Jamal menjadi tamu pertamanya. Rasa lapar menjadi alasan utama pak Jamal selalu datang paling awal. Kedatangan pria berkumis tebal ini disambut dengan ceria oleh sang pemilik pesta. Senyum pak Amir menandakan kebahagian atas kedatangan tamunya itu. tamu-tamu yang lain pun ikut menyerbu tempat pak Amir. Suara musik yang mendawai-dawai menemani setiap suapan para tamu. Erna telah siap tampil di kursi dambaan setiap wanita yang nyaman untuk bersanding bersama pujaan hatinya. Panas kian terasa mengiringi semakin tingginya matahari di kampung itu. Mempelai pria belum juga datang. Padahal jarak antara rumah keluarga Erna dan rumah sewaan mempelai pria hanya lima ratus meter. Sepertinya ada masalah dengan mempelai prianya.
Arif, seorang pria ganteng asal daerah lain berhasil membuat Erna bertekuk lutut di hadapannya dalam hal cinta. Arif inilah sang mempelai pria yang dari tadi ditunggu kemunculannya oleh Erna sekeluarga. Arif sebenarnya tidak mencintai Erna. Sejak semula ia hanya ingin bermain-main dengan Erna, tetapi Erna menanggapinya dengan serius. Usia mereka cukup jauh berbeda, terpaut lima setengah tahun. Sebenarnya usia bukanlah sebuah hal yang perlu dipermasalahkan dalam setiap pernikahan. Namun, Arif mempermasalahkannya. Baginya tidak wajar jika seorang pria menikahi wanita yang berusia lebih tua daripadanya. Dengan paksaan keluarga Erna, akhirnya Arif tak berkutik. Ia dipaksa oleh keluarga Erna untuk bertanggung jawab atas perbuatannya, Erna sudah hamil dua bulan. Dengan digiring penduduk, Arif pun mau datang dan duduk di samping wanita yang sangat mencintainya.
Senyum manis segera muncul di kedua bibir Erna melihat Arif. “Mengapa kamu datang terlambat?” Erna bertanya dengan lembutnya kepada Arif. “Aku terlambat karena aku malu bersanding dengan wanita yang jauh lebih tua daripada aku!” Arif menjawabnya dengan nada marah dan raut wajah yang sangat tidak menyenangkan hati orang yang mendengar dan melihatnya. Senyum Erna pun langsung lenyap disapu oleh kata-kata Arif. Arif baru saja melukai hati lembut perempuan yang dari tadi menantinya dengan sabar.

***

Pesta perkawinan telah usai dan waktunya kedua mempelai menapaki jalinan kehidupan rumah tangga mereka yang masih sangat hijau. Sebuah keluarga baru pada umumnya penuh dengan bunga-bunga cinta. Kata-kata mesra pun sering pula muncul dalam setiap percakapan pasangan baru. Akan tetapi, rumah tangga baru Arif dan Erna jauh berbeda dengan umumnya rumah tangga yang baru dibangun dengan pondasi cinta dan kesetiaan. Hampir setiap malam mereka lewati dengan kesunyian dan kehampaan hati. Jika tidak, mereka saling menumpahkan kekesalan dan amarah masing-masing. Arif masih bersikukuh dengan pendiriannya dulu terhadap Erna. Sebagai istri, Erna tentulah tidak dapat menerima perlakuan suaminya yang jelas-jelas terus saja menyakiti hatinya.
Pertengkaran demi pertengkaran kerap menyelimuti kehidupan rumah tangga Arif dan Erna. Arif sering datang dengan kondisi mabuk dan berkata-kata yang tidak pantas diucapkan seorang suami kepada istrinya sendiri. Derai air mata selalu tumpah dari mata indah Erna setiap keadaannya seperti itu. Kicauan burung-burung dari pepohonan di belakang rumah sewaan mereka membuat Erna sedikit terhibur pada siang hari tatkala suami tercintanya sedang bekerja. Walau pukulan sekalipun sering menimpa wajahnya, Erna tetap mencintai setulus hati kepada suaminya. Erna bukanlah seorang istri yang dimanja suaminya. Ia adalah istri yang tegar dan setia dalam hidup berumah tangga.
Suatu malam di rumah sewaan mereka terjadi pertengkaran hebat. Arif selalu saja mencari-cari alasan untuk membuat pertengkaran. Tujuannya satu, perceraiannya dengan Erna. Arif selalu ingin menceraikan istrinya itu. Ia sengaja membuat Erna tidak betah hidup bersama dengannya. Malam itu sebuah pukulan dari tangan kanan Arif telak mengenai perut istrinya. Pukulannya mirip dengan pukulan seorang peninju curang yang dengan sekuat tenaga meninju perut musuhnya di atas ring. Darah segar segera mengucur deras ke arah betis Erna. Bukannya sedih melihat kondisi Erna, Arif malah bahagia karena hal itu menandakan akan gugurnya kandungan dari perut istrinya dan tentunya ia akan mudah terbebas dari jerat pernikahan yang sama sekali tidak diinginkannya.
Benar sekali dugaan Arif mengenai kandungan istrinya, Erna harus kehilangan calon bayi yang sangat diharapkanya hadir di tengah-tengah kehidupannya dan suaminya. Harapannya dapat menimang seorang anak kini telah musnah di hadapan matanya. Kesedihannnya belum cukup sampai di situ. Dengan kejamnya, Arif menceraikan Erna yang sedang dirundung kesedihan yang luar biasa. Pak Amir sekeluarga marah besar dengan tindakan Arif ini. Karena ketekadannya menceraikan Erna, Arif diusir dari kampung yang ramah itu.


***

Kini Erna lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Kenangan-kenangannya bersama mantan suaminya itu masih kental di ingatannya. Tidak jarang butir-butir air matanya membuat garis lurus di kedua pipinya yang mulai tidak dirawatnya. Mantan suaminya yang selalu dirindukannya kini tidak pernah lagi menemuinya. Arif kini bak ditelan bumi di mata Erna. Sosok lelaki ganteng berkulit sawo matang yang pernah singgah di sampingnya terasa masih ada di hadapan Erna, tetapi hanya dalam bayang yang tak dapat digapainya lagi. Kadang-kadang Erna tersenyum sendiri mengenang kata-kata manis lelaki itu di kala mereka masih pacaran, walaupun ia tahu kata-kata manis itu adalah bohong belaka. Akan tetapi, setiap senyumnya hanya sekilas pintas mampir di bibirnya. Kesedihanlah yang sering menghampirinya dalam mengarungi hidupnya kini.
Mantan suami Erna tidak sedih seperti dirinya. Arif kini telah memiliki pacar baru. Begitulah Arif selalu memanfaatkan kegantengan wajahnya untuk memikat gadis-gadis yang diinginkannya dan setelah ia puas, gadis-gadis itu pun ditinggalkannya satu per satu. Pacarnya kini adalah seorang gadis cantik berusia delapan belas tahun. Empat tahun lebih muda daripada Arif. Kali ini Arif serius menjalin hubungan dengan gadis belia itu. Gadis ini bernama Laina. Ia adalah seorang anak pedagang beras di pasar. Parasnya cantik dan banyak memiliki teman, baik perempuan maupun laki-laki. Arif dengan keseriusannya berniat menikahi gadis pujaan hatinya yang berusia lebih muda daripadanya itu. Menurutnya, Laina gadis yang sesuai dengan keinginannya dari dulu, baik dari usianya lebih muda daripadanya, parasnya yang cantik, kata-katanya yang lemah lembut, dan ia mencintai Laina.
Laina yang melihat keseriusan Arif, akhirnya bersedia menerima lamaran Arif. Hari yang bahagia mereka tunggu pun akhirnya tiba. Resmilah mereka menjadi pasangan suami istri yang bahagia untuk merajut tali-temali kehidupan yang baru. Hari-hari mereka selalu diwarnai oleh canda tawa dan kelembutan jiwa mereka masing-masing. Kebahagian mereka semakin bertambah tatkala hasil pemeriksaan medis di rumah sakit menyatakan mereka telah mendapatkan karunia berupa calon anak. Keduanya hidup dengan nuansa yang harmonis. Hampir tidak ada percekcokan serius dalam rumah tangga yang mereka bina bersama. Arif sangat menyayangi istrinya dan begitu pula sebaliknya.
Empat bulan telah berlalu, Arif sering membawa Laina periksa di dokter spesialis kandungan. Segala permintaan Laina selalu dituruti Arif. Pernah suatu ketika Laina meminta Arif mencuri mangga milik orang lain dengan alasan hal itu adalah kemauan si bayi. Arif pun tidak ragu menurutinya hingga ia babak belur dipukuli oleh massa. Bulan berganti bulan, dedaunan yang semula hijau pun telah beralih warna menjadi coklat kering tergeletak di tanah. Usia kandungan Laina pun semakin tua. Malam minggu saat bulan sedang tidak purnama, Laina merasa perutnya sangat sakit. Bidan di dekat rumahnya tidak sanggup mengeluarkan bayi yang ada dalam rahimnya. Bidan itu menyarankan Arif agar proses persalinan Laina dilakukan di rumah sakit. Dokter rumah sakit menyatakan bahwa Laina harus segera dioperasi. Arif menjadi bingung dan sangat panik. Pasalnya, bukan hanya keadaan istrinya yang gawat, tetapi juga ia tidak memunyai uang untuk biaya operasi itu.
Baru pertama kali ia sebingung dan sepanik ini. Kebingungan dan kepanikannya membuahkan ketakutan dalam dirinya. Ia takut kehilangan istri dan anaknya yang masih berada dalam kandungan istrinya. Saat itulah ia teringat dengan Erna—mantan istrinya—yang sudah ia siksa dan tinggalkan. Padahal ia tahu bahwa Erna sangat mencintainya. Ia juga teringat dengan peristiwa keguguran yang menimpa Erna akibat perbuatannya. Rasa bersalah campur rasa penyesalan melingkupi ruang jiwa Arif saat itu. Kala itu pulalah ia sadar bahwa dalam sebuah pernikahan yang terpenting bukanlah usia, melainkan cinta dan kesetiaan. Ia hapus pendiriannya tentang pentingnya usia dalam hidup berumah tangga.
Tak pikir panjang, semua harta yang dapat ia jual, ia jual. Belum cukup dengan hartanya, dua kantong darah dari dalam tubuhnya pun ia jual. Uang sudah ia serahkan kepada pihak rumah sakit dan operasi pun telah dilaksanakan oleh tim dokter ahli kandungan. Arif langsung mencari informasi tentang nasib istri dan anaknya dari dokter di rumah sakit itu. Dokter hanya menyarankan agar Arif sabar dan tabah. Anaknya selamat, tetapi Laina tidak dapat meneruskan nafasnya untuk menemani Arif dalam mengarungi samudera rumah tangga mereka. Arif benar-benar sedih kala itu. Kini ia dapat merasakan pedihnya kehilangan orang tercinta dalam hidup di dunia. Dalam dukanya, ia hanya berharap anaknya kelak tidak mengalami nasib yang dialami Erna dahulu dan dirinya sekarang.


***

CERPEN ENAM MAHMUD JAUHARI ALI

Bahagia dalam Duka

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

“…Innallaaha laa yughayyiru maa biqaumin hattaa yughayyiruu maa bianfusihim….”, kaset rakaman pertengahan ayat 11 surat Arrad yang sedang diputar orang di masjid membuat Rahman terbangun dari tidur nyenyaknya. Mimipinya masih membayang di benaknya dan matanya kelihatan masih kemerah-merahan. Dilihatnya jam di dinding kamarnya, “Baru jam empat pagi buta.”, katanya dalam hati. Dia rebahkan kembali tubuhnya yang kurus di atas kasurnya yang sudah usang. Matanya yang masih merah hampir terpejam kembali untuk meneruskan mimpi indahnya yang terputus oleh suara dari masjid di dekat tempat tinggalnya. Akan tetapi, rupaya ingatannya soal salat tahajud muncul dalam jiwanya yang setengah tidur. Bergegaslah ia ke arah balakang tempat tinggalnya untuk buang air dan kemudian berwudu. Dengan jalan yang agak sedikit gontai, ia kembali ke kamar dan mendirikan salat Tahajud secara tertib. Walaupun dalam kondisi mengantuk, ia tetap salat dengan khusyuk. Ia memang sering menanamkan salat secara khusyuk kepada murid-muridnya di sekolah tempat ia mengajar. Ia paham betul dengan surah Almukminun ayat 1—2 yang isinya, “Qad aflahal mu’minunalladjiina hum fii shalaa tihim khoo syi’uun”, artinya sungguh beruntung orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. Khusyuknya berlanjut dalam doa yang dipanjatkannya di keheningan alam semesta di waktu sebagian orang masih tertidur pulas ditemani mimpi-mimpi mereka.
Dalam doanya ia meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa sebuah pekerjaan yang dipandangnya sangat baik hingga masa tuanya menanti di waktu yang akan datang. Sudah lima tahun ia mengabdikan diri di sebuah Sekolah Dasar yang agak terpencil di kota kelahirannya. Bukan sebagai pegawai negara, melainkan sebagai tenaga honorer yang setia mengemban tugas-tugas negara. Semenjak kelulusannya di sebuah perguruan tinggi, ia setiap tahun mengikuti tes CPNS di kotanya yang tergolong cukup jauh dari ibukota provinsi. Dalam setiap doanya, tidak pernah ia melupakan urusan yang satu itu. Ia selalu menyelipkan permohonan menjadi seorang pegawai negara yang setia kepada nusa dan bangsa. Sudah lima kali ia mengikuti tes CPNS, tetapi selalu gagal. Padahal ia sebenarnya sudah banyak mambaca buku yang berkenaan dengan tes CPNS. Buku-buku yang dibacanya seperti buku Tata Nagara, Kebijaksanaan Pemerintah, dan buku Skolastik.
Setelah salat Tahajud dan berdoa, ia rebahan di atas kasur usangnya hingga waktu Subuh datang menyapa kesunyian dirinya dalam balutan udara yang dingin di ruang berukuran 3x3 meter. Seperti biasanya, ia tidak terlambat datang di masjid untuk salat Subuh berjamaah. Kala itu ia menjadi imam dalam salat Subuh di masjid dekat rumahnya. Sudah menjadi acara rutin baginya, setelah salat Subuh di masjid ia menyiapkan buku-buku untuk dibawanya ke sekolah.
“Rahman!” ibunya yang sangat menyayanginya memanggilnya dari luar kamar.
“Ya Bu”, sahutan Rahman membuat hati ibunya senang.
“Lekaslah mandi, hari sudah terang!” perhatian ibunya selalu mengalir kepadanya. “Selesai mandi nanti, makan saja nasi di meja makan biasa, sudah ibu siapakan!” tambah ibunya.
Hari itu hari Senin, ia harus pergi ke Sekolah Dasar tempatnya mengajar anak-anak yang haus ilmu dan pengetahuan. Tempat sekolahnya cukup jauh juga dari tempat tinggalnya. Jika dihitung secara dengan jari tangan, lebih kurang sepuluh kilo meter jarak antara tempat tinggalnya dan sekolah tempat ia mengajar. Dengan sepeda motor kreditan ia pulang- pergi dari tempat tinggalnya ke sakolah dan sebaliknya. Dia mengajar di sana setelah enam bulan lulus dari program Diploma II di sebuah perguruan tinggi milik negara. Perjuangannya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga honorer bukanlah sebuah perkara yang gampang, tetapi sangat melelahkan. Dari lima Sekolah Dasar yang ia datangi, hanya satu saja yang mau menerimanya bekerja sebagai guru honorer. Perebutan pekerjaan sebagai guru Sekolah Dasar di kotanya cukup ketat. Meskipun tempatnya mengajar jauh dari tempat tinggalnya, ia tetap tabah menjalaninya. Dalam pikirannya ia bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak bekerja di luar kotanya. Seandainya ia bekerja di luar kotanya, ia kesulitan mengurus adik-adiknya yang masih kecil. Ia adalah anak pertama dari perkawinan pertama ibunya. Saat ia berusia delapan tahun, ayah kandungnya meninggal dunia saat menjalankan tugas luar. Enam tahun kemudian ibunya dinikahi oleh seorang pedagang ikan asin dan mendapatkan empat orang anak. Akan tetapi, untung tak dapat diraih, buntung tak dapat dihindari, ayah tirinya menceraikan ibunya. Keempat adiknya sekarang menjadi bagian tanggung jawabnya sebagai kakak tertua dalam keluarganya. Gajinya satu bulan sedikit banyak dapat membantu adik-adiknya sekolah. Olah karena itulah, ia ingin sekali menjadi seorang pegawai negara guna membantu perekonomian keluarganya yang cukup memprihatinkan itu.
Kesabaran tetap menjadi bagian hidupnya dan keluarganya. Ia yakin Tuhan Yang Maha Esa bersama orang-orang yang sabar. Ia juga bersyukur masih diberi nikmat yang saat ini masih dirasakannya dan juga keluarganya. Saat masih kecil ayah kandungnya pernah mengatakan kepadanya bahwa jika kita bersuyukur kepada-Nya, kita akan mendapatkan nikmat yang lebih daripada yang kita terima saat ini. Kata-kata ayahnya itu masih menggores di ingatannya sebagai warisan berharga untuknya.

***

“Man, aku mendengar kabar bahwa bulan Nopember ini ada tes CPNS untuk formasi guru tahun ini”, temannya yang juga mengajar di sana memberitahukan kabar gembira itu kepadanya.
“Alhamdulillah! Kamu dapat kabar itu dari siapa?” Rahman sangat bersemangat saat itu.
“Aku dapat kabar itu dari tanteku yang bekerja di BKD Kota.”, temannya itu menjawab. “Esok kemungkinan beritanya dimuat di surat kabar”, tambah temannya.
Betapa bahagianya ia mendengar kabar itu. Keesokan harinya ia mambaca langsung kabar penerimaan CPNS di surat kabar harian di kotanya. “Alhamdulilah”, sekali lagi ia ucapkan mengetahui kebenaran berita itu. Hatinya semakin bertambah senang karena ucapan temannya itu bukan sekadar omong kosong yang tiada arti, tetapi memang merupakan sebuah kebenaran. Tanpa berpikir panjang, ia langsung ke BKD Kota untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap di sana. Dengan penuh semangat ia mencatat semua persyaratan yang tertulis di papan pengumuman.
Waktu ia berada di BKD Kota, ia tanpa sengaja bertemu dengan teman-teman lamanya sewaktu kuliah dulu. Ada Latifah, Murad, Nuri, dan Nurul.
“Assalamu’alaikum”, sapa Murad, temannya yang terkenal gemar menyontek hasil jawaban saat ujian semester.
“Wa’alaikumussalam”, balas Rahman dengan senyum yang menyungging manis dibibirnya.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Latifah kepadanya. Latifah merupakan gadis tercantik di kampusnya dulu. Banyak mahasiswa yang tertarik padanya.
“Alhamdulillah, aku dalam keadaan baik Fah”, jawab Rahman. Kabar kalian bagaimana?” Rahman balas bertanya.
”Kabar kami juga baik sepertimu”, jawab Nuri.
Mereka bebincang dengan asyiknya di bawah pepohonan rindang dengan udara yang sejuk. Hingga lapar pun tidak terasa lagi di perut mereka. Terkadang tawa mereka ikut mewarnai perbincangan yang sekilas seperti acara reuni. Wajah-wajah mereka tampak bahagia. Tak ada goresan kesedihan di wajah mereka termasuk wajah Rahman. Padahal sebenarnya mereka masing-masing adalah saingan dalam perebutan kursi PNS.
Bertambah lengkaplah kebahagian hati Rahman. Kebahagiannya seputar penerimaan CPNS berpadu dengan kebahagiannya bertemu dengan teman-temannya yang lama tidak bersamanya. Setelah lama berbincang, mereka pun bubar bagai kerumunan masa yang membubarkan diri setelah berdemo dengan penuh semangat. Sambil berkendara, Rahman masih mengingat-ingat kenangannya pada masa lalu. Tanpa disadarinya ingatannya tentang seorang gadis pada masa kuliah pun muncul bersama ingatannya yang lain. Sudah lama ia tidak bertemu dengan gadis itu. Jika dihitung-hitung, sudah lebih lima tahun ia tidak bertemu dengan gadis yang pernah hinggap di hatinya yang lembut itu.
Sesampainya di rumah ia rebahkan tubuhnya di lantai ruang tamu yang terbuat dari susunan kayu. Ia pandangi langit-langit rumahnya yang semakin menua. Dalam hati ia berniat akan memperbaiki rumah kediamannya itu jika ia lulus tes CPNS nanti. Bayangannya pecah berkeping-keping tatkala salah seorang adiknya memanggilnya.
“Ka! Ibu menyuruh Kakak makan.
“Astaghfirullah! Kakak sampai lupa bahwa dari tadi kakak belum makan. Untung kamu mengingatkan Dik.”
Seperti itulah di rumah keluarga Rahman, satu kaluarga saling mamperhatikan. Jika ada yang belum makan misalnya, yang lainnya mengajaknya makan. Meskipun mereka hidup serba pas-pasan, tetapi keharmonisan keluarga mereka tetap utuh. Dapat pula dikatakan bahwa kaluarga mereka termasuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
“Ada apa Man sepertinya kamu agak berbeda hari ini?” tanya ibunya.
“Saya hari ini dapat nikmat dari Tuhan Yang Maha Esa.”
“Nikmat apa?” ibunya kembali bertanya.
Rahman pun menceritakan kejadian yang ia alami hari ini dengan penuh bahagia. Ibunya yang mendengarkan ikut tersenyum tanda bahagia.
“Berusahalah Man untuk dapat lulus tes itu dan jangan lupa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dikabulkan-Nya keinginanmu itu!” ibunya dengan penuh kasih sayang menasihati Rahman. “Kita sebagai manusia wajib berusaha dan berdoa.”, tambah ibunya lagi.
Dengan kesabaran dan tekad yang tinggi, Rahman semakin giat belajar dan berdoa agar ia dapat meraih cita-citanya. “Ka, temani aku malam ini ke pasar membeli celana olahraga untuk kupakai besok!” pinta Maimunah, adik pertama Rahman.
“Insya Allah nanti kutemani.

***

Teringatlah kembali Rahman dengan waktu pelaksanaan tes CPNS yang akan segera dilaksanakan. Hari-hari ia jalani dengan banyak mambaca buku-buku untuk menghadapi soal-soal tes CPNS. Salat tahajud pun tidak lupa ia kerjakan. Akhirnya, hari tes pun sampai juga di hadapan Rahman.
“Bu, saya berangkat dulu ke tempat tes. Saya minta restu Ibu! Doakan saya ya Bu agar dapat lulus tes kali ini!” ucap Rahman. Ibunya mengangguk-anggukan kepala dengan wajah yang penuh restu. Malam berganti siang dan begitu sebaliknya. Tiada berhenti alam ini berputar sebagai tanda kekuasan-Nya. Rahman dengan hati yang kurang tenang terus menapaki jalan hidupnya dengan kesabaran. Liburan sekolah ia isi dengan mendekatkan diri kepada-Nya.
Hasil tes akan segera diumumkan. Pikiran dan hati Rahman saat itu tidak karuan. Penyebabnya bukan karena pengumuman tes itu yang akan diberitakan, melainkan ibunya yang sedang tergolek lemas di ruang IGD Rumah Sakit di kotanya. Sakit ibunya membuatnya sedih bahkan sangat sedih. Betapa tidak, selama ini yang merawatnya dengan penuh kasih sayang adalah ibunya. Akan tetapi, ketika ibunya sakit, ia tidak dapat berbuat banyak karena ia tidak punya biaya untuk perawatan yang lebih baik untuk kesembuhan ibunya.
Tepat sehari sebelum pengumuman tes itu, ibunya menghembuskan nafas terakhir di rumahnya. Ibunya terpaksa dirawat di rumah karena tidak ada biaya lagi untuk merawat ibunya di rumah sakit. Derai air mata segera mengucur keluar membasahi pipi Rahman yang sejak tadi kering. Kini, orang yang sangat menyayangi Rahman telah tiada. Punahlah harapannya untuk membahagiakan ibunya dengan rumah yang bagus dan makanan yang lezat sebagai balas budi kepada ibunya. Hanya satu yang ia akan selalu lakukan untuk kebahagian ibunya, yakni menjaga iman dan takwanya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai kata-kata terakhir ibunya sebelum menghembuskan nafas terakhir.
“Assalamu’alaikum!” sebuah salam dari luar rumah Rahman diucapkan seorang perempun berkulit kuning bersih.
“Wa’alaikumussalam”, balas Rahman dari dalam rumah.
“Man, aku turut berduka atas meninggalnya ibumu kemarin”, ucap perempuan itu.
“Terima kasih banyak atas perhatianmu.”
“Ah jangan kamu lebih-lebihkan! Sebagai teman, sudah seharusnyalah aku seperti ini kepadamu.
“Oh iya, kamu belum tahu ‘kan hasil tes CPNS kemarin?”
“Aku tak sempat memikirkannya Li. Pikiran dan hatiku sedang kacau.”
“Maaf! Aku harus mengatakan hasil pengumuman itu kepadamu. Kamu lulus Man!”
“Kamu hanya ingin menghiburku ‘kan? Aku tahu itu.”
Tak mau berlama-lama, Serli pun menunjukkan fotokopi hasil pengumuman kemarin di hadapan Rahman. Air mata Rahman pun jatuh yang kedua kalinya membasahi pipinya. Ia bahagia bercampur sedih. Ia bahagia karena doanya dan doa ibunya dikabulkan-Nya. Ia sedih karena kebahagiannya hari ini tidak dapat dirasakan ibunya di dunia. Kini, Ia dan adik-adiknya terus hidup bersama hingga dedaunan menguning dan kuncup bunga bermekaran di rumah-rumah idaman.
***

Selasa, 01 Juli 2008

CERPEN 5 MAHMUD JAUHARI ALI

Penulis Sastra

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Aku mulai mengambil kertas-kertas yang berhamburan di lantai kamarku. Maklum kala itu hari sudah larut malam. Mataku sudah tidak tahan lagi bertahan lama untuk melihat kata-kata yang kutulis. Kulihat mataku di depan sebuah cermin pemberian seorang teman yang telah lama tak kujumpai. Warna putih mataku ternyata sudah berubah menjadi putih campur merah. Aku menyamakan mataku saat itu dengan lampu lima watt yang hampir padam. Terdengar olehku suara tiang listrik yang sengaja dipukul sang penjaga malam dua belas kali. Ternyata memang benar-benar larut malam saat itu. Kurebahkan tubuhku di pembaringan yang empuk bersama tumpukan buku dan bantal yang selalu setia menemaniku dalam setiap tidur nyenyakku. Meskipun sudah agak berbau tidak sedap, kasurku tetap menjadi kasur terbaik bagiku. Sudah setengah tahun aku membiarkannya begitu saja. Aku selalu memiliki alasan untuk tidak membersihkannya. Urusan kuliah adalah alasan yang paling sering kugunakan untuk hal itu. Suatu saat nanti akan kujemur kasurku di bawah panasnya matahari kotaku yang indah di mataku. Jujur, aku ini termasuk orang yang malas dalam hal urusan kamar tidur. Akan tetapi, soal urusan belajar, aku termasuk orang yang rajin belajar. Kuakui bahwa aku belum dapat menyeimbangkan urusan balajar dan urusan rumah termasuk kamar tidur. Kadang aku sering larut dalam asyiknya belajar. Mungkin bukan hanya aku yang seperti itu. Maksudku masih ada orang-orang yang kurang peduli terhadap tempat tidur mereka di luar sana.
“Bangun-bangun!” terdengar suara Suryadi dari luar. Kukira suara itu hanya dalam mimpiku. Ternyata setelah kedua belah mataku terbuka, betapa terkejutnya aku melihat Suriyadi ada di hadapanku. Bagaimana ia bisa masuk pikirku. Padahal seingatku tadi malam pintu kamarku sudah kukunci. Setelah kutanyakan hal itu kepadanya, aku baru tahu bahwa sebenarnya aku lupa mengunci pintu kamarku tadi malam. Wajar saja Suryadi dapat masuk dan membangunkanku dengan mudah di kamarku yang hanya berukuran 3x3 meter itu. Dilihatnya tulisanku yang ada di salah satu kertas di meja balajarku. Ia mambaca dan mancari sambungannya. Sepertinya ia tertarik dengan isi cerita pendekku yang kutulis tadi malam.
“Cerita pendek ini termasuk tugas kuliahmu atau sengaja kaubuat dan kaukirimkan ke surat kabar?” ia bertanya dengan penuh keingintahuan kepadaku.
“Tugas dan sekaligus akan kukirimakan ke surat kabar.”
“Pernahkah cerita pendekmu dimuat di surat kabar?”
“Tidak pernah. Padahal aku sudah sering mangirimkan cerita-cerita pendekku ke surat kabar. Mungkin karena aku kurang mahir menulis cerita pendek sehingga cerita pendekku tidak pernah dimuat di surat kabar.”
“Kalau seperti itu, kamu harus sering menulis supaya menjadi mahir menulis cerita pendek! Soal dimuat atau tidak dimuat di surat kabar urusan belakangan.”
Sebenarnya aku sudah lama menulis cerita pendek dan juga puisi. Saat aku masih duduk di bangku SMA dahulu aku sering menulis keduanya dan ditempel di majalah dinding sekolah. Waktu dulu itu aku belum pernah mengirimkan hasil karya sastraku ke surat kabar karena aku tidak tahu cara mangirimkannnya. Selain itu aku juga kurang parcaya diri menulis di surat kabar saat itu. Tulisan-tulisanku menumpuk di buku catatanku yang sudah mulai kropos dimakan rayap. Jika dihitung, aku sudah menulis sembilan puluh lima puisi dan dua puluh tujuh cerita pendek. Selama kuliah di fakultas sastra, aku sering mendapatkan tugas membuat cerita pendek dan juga puisi dari dosen-dosenku yang kebanyakannya adalah sastrawan senior di kotaku. Cerita pendek yang kukerjakan malam kemarin itu merupakan salah satu tugasku. Jika sesuai jadwal, besok rencananya akan kuserahkan cerita pendek tersebut kepada dosenku yang memberikanku tugas tersebut.. Cerita pendekku itu pun mulai kuketik di komuputer. Bukan komputerku, melainkan milik tamanku yang membuka usaha jasa pengetikan. Lumayan lebih murah mangetik di sana daripada di tempat jasa pengetikan lainnya. Temanku itu bernama Yani. Bukan Akhmad Yani atau nama lelaki lainnya karena ia seorang gadis yang giat berusaha mencari nafkah. Usianya sama denganku, 21 tahun. Tetapi ia sudah lulus kuliah, pasalnya ia hanya mengambil program Diploma II bidang komputer.
Siang itu aku asyik mengetik huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat hingga mataku lelah dan kuputuskan untuk berhenti sejenak. Kuhela nafasku dan kuteruskan kembali hingga azan salat Magrib berkumandang dari sebuah musala di sana. “Salatlah dulu!” temanku mengingatkanku dengan kata-katanya yang ramah. Aku pun segera menuju musala dan salat berjamaah bersama orang-orang yang tak kukunal. Sekitar jam sepuluh malam aku tiba di kosku dengan membawa hasil ketikanku yang sudah menempel di beberapa lembar kertas putih bersih.
Keesokan harinya aku dan teman-temanku mangumpulkan dan membahas cerita-cerita pendek kami basama-sama di kampus. Dosen kami memberikan kami kesempatan yang seluas-luasnya untuk berpartisipsi aktif dalam acara tersebut. Setelah kuperbaiki, cerita pendekku itu aku kirimkan ke surat kabar di kotaku. Sudah sebulan kutunggu dimuatnya cerita pendekku itu di surat kabar, tetapi tidak ada juga dimuat. Kemungkinan nasibnya sama dengan cerita-cerita pendekku yang lain, hanya menjadi tumpukan data yang kemudian dihapus dari komputer dewan redaksi.

***

Itulah sekilas ceritaku dalam menulis sastra pada masa lalu. Kini aku sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak yang sungguh membahagiakan. Hidupku lebih banyak kuisi dengan kegiatan-kegiatan di luar sastra. Aku bekerja di bidang komputer bersama istriku yang tidak lain adalah mantan temanku sendiri, Yani. Dalam keseharianku, aku selalu disibukkan dengan urusan jual beli dan perbaikan komputer. Sudah lima tahun aku bergelut di bidang ini. Mulanya aku bekerja sebagai guru sastra Indonesia di salah satu sekolah swasta di kotaku sebagai tenaga honorer. Akan tetapi, pekerjaanku itu tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup bagi keluargaku. Maklum, gajiku selalu kurang untuk rumah tanggaku. Sebenarnya orang-orang di sekitarku selalu meyarankanku agar tidak berhenti dari pekerjaanku sebagai guru sastra Indonesia. Ada lagi yang mengatakan bahwa aku termasuk orang yang tidak bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan-Nya padaku. Bagiku, setiap orang wajib berusaha untuk memperbaiki hidupnya dan keluarganya. Dalam alur berpikirku, jika sebuah pekerjaan tidak membuat kehidupan kita bahagia, mengapa tidak mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Kita tentu harus selalu optimis dalam mengarungi samudera kehidupan ini dengan menatapnya sebagai sebuah kesempatan. Selama kita masih hidup, selama itu pulalah kesempatan itu ada, termasuk kesempatan untuk memperbaiki hidup. Istriku sering menanyakan kepadaku apakah aku tidak menyesal meninggalkan pekerjaanku semula. Jawabku tidak.
Pagi-pagi sekali telepon rumahku sudah berdering. Kala itu aku sedang menemani anak-anaku menonoton acara terlevisi kegemaran mereka. Istriku yang mengangkat panggilan itu tiba-tiba memanggilku dan mengatakan bahwa Aminudin yang merupakan temanku waktu kuliah dulu ingin berbicara kepadaku. Ah! Ada angin apa dia meneleponku pagi-pagi sekali, pikirku. Sudah satu tahun ini kami tidak berhubungan.
“Assamu’alaikum! Ini Hasan?”
“Iya Din, ini aku. Ada apa kamu menelponku sepagi ini?”
“Kamu tentu masih ingat dengan pak Amiransyah. Tadi malam beliau meninggal dunia di rumah sakit.”
Aku sangat terkejut mendengar berita itu. Bagaimana mungkin aku tidak tekejut, baru tiga minggu yang lalu aku bertemu dengan beliau di toko tempatku bekerja. Beliau waktu itu memintaku untuk memperbaiki komputer jinjing beliau yang rusak. Saat itu beliau terlihat sangat sehat. Tidak ada gejala atau tanda-tanda bahwa beliau sakit. Belum lagi aku menanyakan penyebab meninggalnya beliau, Aminudin sudah memberitahukan penyebabnya kepadaku. Sontak aku bertambah terkejut karena beliau meninggal disebabkan oleh kecelakan lalu-lintas. Kutarik nafasku dalam-dalam, aku masih belum percaya sebelum melihat jasad pak Amir, dosenku yang sangat peduli dengan mahasiswanya. Pagi itu juga aku ke rumah duka. Aku sekarang benar-benar percaya.
Masih terbayang wajah dan petuah-petuah beliau di ingatanku. Terakhir kali beliau menyarakanku agar aku tidak melupakan sastra. Beliau memintaku untuk kembali menulis sastra walaupun pada nantinya tulisanku tidak dimuat di surat kabar atau majalah. Aku masih ingat certa beliau kepadaku bahwa dahulu sebelum beliau disebut orang sebagai sastrawan, beliau selalu menulis sastra walaupun tidak dimuat di media mana pun. Karya sastra beliau dimuat atau tidak di media massa, bagi beliau bukanlah sebuah masalah. Karena, yang terpenting adalah kita mau dan mampu berkarya. Bahkan, beliau pernah mengatakan bahwa setelah orang-orang menyebut beliau sastrwan pernah dalam satu tahun hanya satu karya sastra beliau yang dimuat di surat kabar lokal. Setelah kupikirkan, apa yang beliau katakan itu ada benarnya. Walaupun tidak dimuat, aku masih bisa membukukan kumpulan cerpen dan kumpulan puisiku dengan uang hasil kerjaku selama ini.
***

Di sela-sela waktu luangku, aku mulai menorehkan kata-kataku dalam bentuk puisi dan cerita pendek di layar komputer jinjingku. Kita memang harus dapat memanfaatkan waktu luang yang ada di sekitar kita dengan hal-hal yang bermanfaat. Aku menyesal mengapa tidak sejak dulu aku memanfaatkan waktu luangku untuk menulis sastra. Sudah hampir lima bulan aku menulis sastra dan mengirimkannya di beberapa surat kabar. Aku tidak hanya mengirimkannya ke surat kabar lokal langgananku, tetapi juga ke surat kabar berskala nasional. Para pelangganku yang sering di tokoku merasa heran dengan tulisan di monitor komputer jinjingku yang mereka lihat. Samar-samar aku mendengar percakapan mereka. Pak Junaidi—pelanggan tetapku—pernah mengatakan kepada istrinya bahwa aku kurang kerjaan sehingga menulis puisi seperti anak-anak yang mendapatkan tugas dari gurunya. Begitu pula Melda—keponakanku sendiri—sempat bertanya kepada istriku untuk apa aku menulis cerita-cerita fiksi. Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata mereka dan melanjutkan aktivitas menulisku karena waktu luang datang kembali menghampiriku. Memang untuk saat ini masih ada orang yang meremehkan dunia sastra termasuk dalam hal tulis-menulis sastra. Semoga pada masa yang akan datang tak ada lagi orang yang seperti itu, harapku.
Minggu depan aku berencana akan menghadiri acara sastra di kotaku. Tadi siang temanku mengundangku untuk dapat datang di acara tersebut. Katanya acara itu sangat baik untuk dapat kami ikuti. Sudah lama sekali aku absen dalam acara sastra di kotaku. Dahulu waktu aku masih kuliah, aku selalu mengikuti setiap acara sastra, baik yang digelar di kotaku maupun di kota lainnya. Rasa rindu untuk dapat hadir dalam acara sastra mulai meyelimuti hatiku saat ini. Hari mulai gelap dan aku harus menutup tokoku untuk hari ini. Sambil menutup tokoku, aku masih terbayang sosok pak Amir dan dunia tulis-menulis sastra.

***

CERPEN 4 MAHMUD JAUHARI ALI

Dedaunan

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Siang itu Darman duduk termangu sendiri di teras samping rumahnya. Sudah satu minggu ini ia sering seperti itu. Tatapannya kosong seakan tiada yang dipikirkan dalam otaknya. Terkadang matanya menatap sebuah pohon yang berukuran besar dan berdaun rimbun segar tak jauh dari tempatnya duduk. Pohon itu dulunya ditanam oleh kakeknya sewaktu ia masih berusia dua belas tahun. Kini usia Darman sudah dua puluh tujuh tahun. Berarti pohon itu sudah menemaninya selama lima belas tahun. Jika sore telah tiba, biasanya ia dan keluarganya duduk santai di bawah pohon yang rindang itu. Udara yang sejuk menjadi salah satu alasan mereka sering duduk bersama di sana. Canda dan tawa mengiringi kebersamaan mereka di bawah naungan dedaunan hijau peninggalan sang kakek.
Lalu mengapa Darman sering termenung sendiri? Padahal dia sekeluarga hidup bahagia dan tidak ada masalah dengan pohon tersebut. Tidak ada daun-daun yang layu misalnya dari pohon itu. ranting, cabang, dan pohonnya pun masih terlihat kukuh. Saat berbuah pun, buahnya besar-besar dan sangat manis. Maklum, pohon itu adalah pohon mangga golek berkalitas tinggi. Dahulu kakek Darman sengaja mencari bibitnya di Bogor. Kenangan indah tentang sang kakek selalu melekat dalam pikiran Darman saat ia memandang pohon tersebut.
Apakah karena ia rindu dengan kakeknya sehingga ia sering duduk termenung sendirian? Sang kakek sudah meninggal dunia enam tahun yang lalu. Kakek Darman orangnya sangat ramah dan menyayangi keluarganya. Darman adalah salah satu cucu kesayangan sang kakek. Mereka dari dulu hidup rukun dalam kebersamaan yang erat.
***

Satu bulan yang lalu keluarga Darman dan keluarganya kedatangan tetangga baru. Tetangga baru mereka itu datang dari kota yang jauh. Mereka sekeluarga pindah di desa Darman karena tuntutan pekerjaan. Pak Joni—kepala rumah tangga mereka—mendapatkan tugas menjadi lurah di desa itu dari atasannya. Rumah keluarga pak Joni sebelumnya adalah tanah kosong yang sering digunakan anak-anak di desa itu untuk lapangan bermain sepak bola dengan riangnya. Sehabis bermain sepak bola, biasanya anak-anak tersebut duduk di bawah pohon mangga milik keluarga Darman yang letaknya bersebelahan dengan tempat mereka bermain bola. Setelah dibangun sebuah rumah yang tergolong mewah, anak-anak di desa itu pun tidak pernah lagi duduk di bawah pohon mangga peninggalan kakek Darman.
Tetangga baru mereka termasuk orang-orang yang individualis. Mungkin karena mereka lama tinggal di kota sehingga mereka memiliki sifat seperti itu. Mungkin juga disebabkan oleh pembawaan watak pada diri mereka sendiri karena tidak semua orang kota bersifat individualis. Masih ada orang-orang kota yang mau berjabat tangan dan tersenyum ramah dengan orang-orang di sekitar mereka. Mungkin juga karena keluarga pak Joni merasa lebih tinggi martabatnya daripada warga di desa itu. Jarang sekali keluarga pak Joni mau tersenyum apalagi menyapa orang yang berpapasan dengan mereka di desa itu termasuk dengan keluarga Darman. Kalau pun ada salah seorang warga yang menyapa mereka, hanya kata “ya” yang muncul dari mulut mereka.
Suatu malam pak Joni bersama warga di desa tersebut mengadakan rapat desa di Balai Desa. Banyak kritik yang dilontarkan pak Joni dalam rapat tersebut. Kemajuan desa merupakan bagian yang paling dikritik oleh pak Joni. Pak Joni tidak ragu-ragu mengatakan bahwa desa itu tidak maju. Sontak sebagian warga setempat menjadi geram dibuatnya. Banyak warga yang tidak sependapat dengan pak Joni karena selama ini desa itu lebih unggul dari beberapa bidang kehidupan daripada desa lainnya, seperti dalam bidang olahraga, ekonomi, dan dalam bidang perkebunan. Bahkan, di desa itu ada pembangkit listrik tenaga air yang dibuat oleh salah seoang warganya sehingga mereka tidak perlu meminta jasa listrik dari pemerintah. Bahkan, listrik mereka juga mereka alirkan ke dua desa di sekitarnya. Sebagian warga lainnya ikut mendukung pendapat pak Joni. Entah apa alasan mereka mendukung pak Joni. Mungkin mereka sudah dibeli oleh pak Joni dengan harga yang pantas. Menyangkut masalah kebersihan desa, pak Joni kembali mengatakan bahwa kebersihan di desa itu kurang bersih. Pak Joni sengaja menyebut pohon mangga milik keluarga Darman sebagai salah satu sumber sampah di desa itu. Alasannya adalah dedaunan dari pohon mangga milik Darman berjatuhan di halaman samping rumah pak Joni. Dedaunan itulah yang disebut pak Joni sebagai sampah yang harus dibasmi dari akarnya. Menurut pak Joni, akar dari sampah dedaunan itu adalah pohon mangga kesayangan Darman. Jadi, menurut pak Joni solusi untuk membasmi sampah dedaunan itu adalah pohon mangga milik Darman harus segera ditebang habis.
Saat itu Darman dan sebagian warga menyarankan dua solusi, yakni agar pohon mangga itu dijadikan sebagai milik bersama—milik Darman dan pak Joni—sehingga mereka sama-sama memetik buahnya dan membersihkan dedaunan yang berjatuhan dari pohon mangga itu. Solusi yang kedua, jika pak Joni keberatan terhadap solusi pertama, bagian yang ditebang cukup cabang dan ranting yang berada di atas tanah halaman pak Joni. Akan tetapi, pak Joni dan sebagian warga yang lain tidak setuju dengan kedua saran tersebut. Kubu pak Joni mengatakan bahwa jika menjadi milik bersama, pak Joni akan mendapatkan bagian buah lebih sedikit daripada Darman karena bagian pohon yang berada di atas tanah pak Joni bagiannya lebih sedikit daripada yang berada di atas tanah Darman. Solusi yang kedua juga disanggah kubu pak Joni. Kubu pak Joni mengatakan bahwa jika hanya sebagiannya yang ditebang, nantinya akan tumbuh kembali cabang yang mengarah ke halaman pak Joni. Bahkan, kubu pak Joni mengancam jika Darman tetap mempertahankan pohon mangganya, ia akan melaporkan keluarga Darman kepada polisi dengan tuduhan menghalang-halangi orang untuk menciptakan kebersihan di desa itu. Darman dan warga lainya hanya bisa diam karena mereka takut jika pak Joni menggunakan kekuasannya sebagai lurah untuk meperkarakannya dengan pihak yang berwajib. Pak Joni memang orang yang termasuk gemar mengintimidasi orang lain guna meluruskan keinginannya.
Perasaan sedih selalu menghampiri Darman pascarapat malam itu. Ia terlihat sangat terpukul dengan keputusan yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Dalam pikiranya, ia masih tidak dapat membenarkan keputusan itu. Istri dan keluarganya yang lain hanya bisa memberi dukungan moril kepada Darman agar ia tabah menerima kenyataan itu. Mereka sadar bahwa mereka hanyalah orang kecil yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan lurah baru di desa mereka. Mereka sangat menyayangkan menapa hanya karena dedaunan, pohon mangga mereka harus ditebang secara keseluruhan. Karena itulah Darman sering duduk termenung sendirian dan kadang-kadang memandangi pohon mangga kesayangannya.

***

Sementara itu pak Joni dan sebagian warga pendukungnya mulai mempersiapkan eksekusi terhadap pohon mangga keluarga Darman. Segala perlengkapan sudah mereka siapkan untuk menebang habis pohon itu. Hari eksekusi sudah di hadapan mata keluarga Darman. Mereka hanya bisa pasrah menghadapi kepemimpinan yang bersifat tirani di desa mereka. Kebebasan mereka seakan sudah hilang dengan adanya tetangga baru mereka itu. Suara teriakan mereka bagaikan angin sepoi-sepoi yang tak dapat menumbangkan kekukuhan sebuah benteng kekuasaan yang dahsyat.
Hari nahas itu akhirnya datang juga tanpa permisi di hadapan keluarga Darman. Tali-temali penyiksaan mulai dililitkn pada batang pohon mangga keluarga Darman. Saat itu pohon mangga kesayangan kelurga Darman seperti pesakitan yang akan dihukum mati oleh algojo yang perkasa. Suara gergaji yang dimainkan dengan sangat piawai sungguh membuat hati keluarga Darman menjadi merintih kesakitan dan sangat sedih. Satu per satu cabang dan ranting dari pohon itu digergaji oleh kubu pak Joni. Potongan-potangan cabang dan ranting itu pun seterusnya mereka seret dan dimasukkan ke gerobak sampah yang kotor. Sementra batangnya digayat dengan sadis menggunakan gergaji yang mulai tumpul karena sudah digunakan berulang-ulang untuk memotong semua cabang dan rantingnya. Akhirnya, batang itu ditarik-tarik dan roboh dengan sangat menyedihkan. Darman seketika itu menitikkan air mata kesedihan. Ia masih ingat betapa sayangnya kakeknya dengan pohon yang kini sudah tak bernyawa lagi itu. Setiap pagi dan sore kakeknya tidak pernah lupa menyirami pohon tersebut. Kini, itu semua hanya menjadi sebuah kenangan tak berbekas karena sudah dikikis habis oleh kekuasaan tak terbatas.
Darman dan keluarganya merasa tak dihargai dan tak diangggap sebagai manusia yang memunyai hak untuk bercocok tanam di desa mereka yang hijau bagai zamrud yang indah dan menawan hati orang yang melihatnya. Pak Joni dengan sombongnya berjalan di hadapan keluarga pak Darman dengan senyuman yang jahat. Senyumannya mengiris hati Darman sekeluarga. Darman dan keluarganya heran, ternyata di dunia ini masih ada orang –orang yang tega berbuat jahat kepada sesamanya. Seakan tidak ada lagi rasa kasih sayang kepada manusia yang lain di sekitarnya. Dulu, orang-orang jahat dalam sinetron hanya dianggap keluarga Darman sebagai tipuan sang penulis naskah. Akan tetapi, hari ini mereka benar-benar menemui orang jahat seperti yang digambarkan dalam cerita di sinetron yang sering mereka tonton bersama.

***

Kini, pohon mangga peninggalan sang kakek yang sangat disayangi Darman sekeluarga telah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Halaman samping rumah mereka yang dulunya dihiasi dengan kehijauan dan canda tawa, hari ini sudah lenyap. Hanya karena dedaunan yang berjatuhan karena sebuah kewajaran, Darman sekeluarga harus kehilangan sebatang pohon warisan yang sangat berharga. Kini, mereka percaya bahwa kekuasaan yang besar itu sulit untuk dikalahkan atau hanya untuk dimintai belas kasihan orang-orang kecil seperti mereka.
Hari-hari pun telah berlalu meninggalkan kejadian pahit pengeksekusian pohon mangga milik keluaarga Darman. Ada hal yang dirasa aneh dan janggal oleh Darman tatakala melewati rumah pak Joni. Beberapa minggu yang lalu pak Joni begitu geramnya dengan sampah sehingga dedaunan yang berjatuhan di halamannya dari pohon mangga keluarga Darman harus segera dimusnahkan sampai ke akarnya, yakni penebangan habis pohon mangga tersebut. Akan tetapi, ketika Darman melewati rumah pak Joni, terlihat dengan jelas adanya sampah—bungkus permen, botol minuman kosong, dan kertas-kertas—yang berserakan di halaman rumah tetangga barunya itu. Hal ini tentulah sebuah pemandangan yang tidak wajar ada di halaman orang yang tidak menyukai sampah. Ternyata pak Joni tidak konsisten dengan ucapannya sendiri dan penebangan pohon mangga Darman hanyalah sebuah bentuk nyata keiriannya terhadap kelurga Darman. Ia iri karena keluarga Darman memiliki pohon mangga yang sangat subur sedangkan ia tidak memiliki pohon apa pun. Dedaunan dari pohon mangga Darman yang berjatuhan di rumahnya hanyalah sebuah alasan untuk menghilangkan nikmat yang diperoleh Darman berupa pohon mangga golek yang sangat subur.
Padahal sebagai seorang pemimpin haruslah dapat menjaga warganya dan bukannya merugikan warga yang ia pimpin. Seorang pemimpin harus membuat orang-orang yang dipimpinnya merasa bahagia. Akan tetapi, berbeda dengan pak Joni yang malah membuat warganya tidak bahagia. Kini, Darman dan keluarganya tetap meneruskan hidup mereka di rumah itu. Tidak ada keinginan dari mereka untuk meninggalkan desa tersebut. Bagi mereka kejadian memilukan itu hanyalah sebuah ujian dari-Nya yang harus mereka terima dengan ikhlas. Seperti hari-hari biasanya, Darman tetap menjalankan tugasnya mengurus perkebunan yang telah ia garap sejak lama untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Saat ia menyirami tanaman-tanamannya di kebunnya, ingatannya pada pohon mangga kesayanganya semakin kuat di otaknya. Rasa pedih tetap ada dihatinya tatakala ia ingat dengan pohon tersebut. Ia teruskan mengurus kebun dan terus menatap ke depan dengan harapan yang lebih baik.

***